Kamis, 18 Oktober 2012

vermikomposting



TATA CARA VERMICOMPOSTING
Terdapat tiga fase dalam tata laksana vermicomposting, yaitu fase persiapan, pelaksanaan, dan perawatan. Fase persiapan meliputi penentuan lokasi, pemilihan sistem, pembuatan bangunan, dan pengadaan alat. Fase pelaksanaan meliputi pembuatan media, pengadaan bibit, dan penanaman. Sedangkan fase perawatan meliputi pemberian pakan, pembalikan, penggantian media, pemanenan media, pengontrolan media, dan pengontrolan hama.

1. Fase Persiapan
1.1. Penentuan Lokasi.


Lokasi vermicomposting sebaiknya sedekat mungkin dengan sumber sampah yang akan ditangani sehingga akan menghemat ongkos angkut sampah. Di sana diperlukan pula sumber air untuk keperluan penyiraman pada saat pembuatan media cacing. Untuk itu dibutuhkan pula penerangan.

1.2. Pemilihan Sistem.


Sistem vermicomposting meliputi sistem rak bertingkat, sistem larikan dan sistem bak atau lubang. Pada sistem rak, cacing tanah dipelihara dalam wadah yang diletakan pada rak. Wadah dapat berupa bak plastik, kayu, bambu, dsb. Sistem larikan dilakukan dengan menempatkan media pemeliharaan cacing dalam suatu larikan memanjang di atas lahan tanpa pembatas pada bagian pinggirnya. Sedangkan pada sistem bak atau lubang cacing ditempatkan di dalam bak atau lubang. Ketiga sistem tersebut disesuaikan dengan kemudahan para pekerja dalam penanganan, perawatan, pengontrolan dan pendugaan produksi cacing dan casting.

Kelebihan sistem rak dibandingkan dengan sistem larikan atau bak/lubang antara lain adalah lebih hemat lahan, pengontorolan lebih mudah, produksi cacing lebih mudah diatur, serangan hama mudah dicegah, kokon yang dihasilkan tidak banyak terbuang. Sedangkan kekurangannya adalah modal yang diperlukan relatif tinggi karena perlu dibangun sistem rak. Kebutuhan tenaga kerja juga tinggi.

Sedangkan kelebihan sistem larikan atau bak/lubang dibandingkan dengan sistem rak bertingkat adalah produksi kascing lebih besar, modal rendah, tenaga kerja lebih sedikit, dan pemanenan lebih mudah. Sedangkan kekurangannya adalah butuh lahan yang banyak dan kokon banyak terbuang.

1.3. Pembuatan Bangunan.

Pada prinsipnya vermicomposting itu sebaiknya tidak terkena sinar matahari dan air hujan secara langsung. Untuk usaha skala kecil, vermicomposting dapat dilakukan di emperan rumah atau di bawah naungan pohon. Sedangkan untuk usaha skala lebih besar diperlukan bangunan los terbuka beratap. Bangunan sebaiknya dipagar untuk menghindari hewan pengganggu. Lantai sebaiknya bersemen dan ada sistem drainase agar terlihat rapi dan bersih.

1.4. Pengadaan alat.

Beberapa alat bantu yang diperlukan dalam vermicomposting antara lain cangkul biasa, cangkul garpu, golok, timbangan, plastik terpal, sarung tangan, ember, karung dan gerobak dorong. Sedang alat analisa yang diperlukan antara lain termometer, soil tester dan pH meter.

2. Fase Pelaksanaan
2.1. Pembuatan media.


Media dapat dibuat dari “sampah basah” seperti sampah pasar, sampah kebun, sampah rumah tangga, dll. Bahan baku media tersebut akan lebih baik apabila dicampur dengan kotoran ternak. Bahan tersebut kemudian dibuat sebagai media melalui cara pengkomposan selama 15 – 21 hari. Sebelumnya bahan-bahan tersebut dicacah 2 – 3 cm. Setelah dikomposkan setengah matang, media tersebut diangin-anginkan selama 2 hari. Media yang baik warnanya tidak terlalu gelap, baunya tidak menyengat, kandungan airnya 60 persen, pH 6,8 – 7,2, temperatur 26 – 32oC, berongga dan mengandung zat pakan yang cukup (Maskana, 1990).

2.2. Pembuatan pakan.

Pakan dapat berasal dari sampah organik, kotoran ternak atau gabungan keduanya. Untuk sampah organik perlu diblender terlebih dahulu kemudian diperam selama sehari-semalam. Untuk kotoran ternak, kotoran tersebut didiamkan dahulu selama 3 hari, kemudian di tambahkan air menjadi bubur.

2.3. Pengadaan bibit.

Bibit cacing yang baik berumur sekitar 3 bulan. Biasanya klitelumnya sudah terlihat, warnanya cerah, gerakannya aktif dan gesit, peka terhadap sentuhan, bentuk tubuh berisi dan tidak cacat.

2.4. Penanaman.

Cacing tanah ditabur sedikit demi sedikit secara merata di atas media. 20 liter media membutuhkan cacing sekitar 1 kg (Maskana, 1990). Setelah dilakukan penanaman media harus ditutup agar suasananya gelap bagi cacing. Jika medianya cocok cacing akan betah di dalamnya. Sedangkan kalau tidak cocok, cacing akan muncul ke permukaan dan mengumpul. Hal itu dapat disebabkan antara lain karena media masih terlalu panas, kandungan airnya terlalu tinggi atau media tersebut mengandung minyak, pestisida atau sabun.

3. Fase Perawatan
3.1. Pemberian pakan.


Banyaknya pakan yang diperlukan cacing secara teoritis adalah seberat badannya. Pakan ditaruh di atas media secara merata. Pemberian pakan dapat dilakukan sehari sekali atau dua hari sekali.

3.2. Pembalikan.

Di dalam perawatan cacing tanah media harus dibalik agar tetap porous. Pembalikan sebaiknya dilakukan dengan tangan secara langsung seminggu sekali apabila sudah terlihat memadat.

3.3. Pengontrolan Media.

Media perlu dikontrol apabila terjadi hal-hal yang tidak wajar terhadap cacing, misalnya cacing tidak betah di media itu. Biasanya faktor yang harus dikontrol adalah kadar keasaman (pH), kelembaban dan suhu. pH yang cocok untuk cacing tanah yaitu sekitar 6,8 – 7,2, kelembaban 28 – 42% atau kandungan kadar air 60% dan suhu 26o – 32oC. Pemeriksaan kelembaban dan suhu dilakukan setiap hari, sedangkan ph cukup 7 – 15 hari sekali (Maskana, 1990).

3.4. Pengontrolan hama.

Hama cacing bermacam-macam. Ada yang memakannya ada pula yang memanfaatkan media menjadi sarangnya. Di antara mereka adalah unggas ( ayam, burung, bebek, dll.), tikus, katak, kadal, tupai, semut, kecoa, dan lipan. Untuk mengontrol hama pemangsa, alternatif terbaiknya adalah dengan membuat pagar atau penghalang yang dapat mencegah masuknya hama tersebut. Sedangkan untuk hama pengganggu dilakukan dengan cara mengontrol media agar tidak terlalu kering dan teknik perawatan lainnya serta menjaga kebersihan kandang (Soenanto, 2000 dan Listyawan et.al. 1998).

3.5. Pemanenan.


Penggantian media atau pemanenan biasanya dilakukan setelah 30 hari penanaman di mana kondisi media sudah seperti tanah. Pemanenan kascing dapat dilakukan dengan berbagai cara. Untuk vermicomposting yang dilakukan di dalam wadah cara yang mudah adalah dengan sistem piramid. Sedangkan untuk skala besar dilakukan dengan sistem blok (horisontal), sistem tangga (vertikal) dan sistem pancingan (Maskana, 1990; Listyawan et.al. 1998).

Sistem piramid dilakukan dengan cara menggembur-gemburkan media dan membentuknya menjadi seperti piramid dan secara alamiah cacing akan berkumpul di bagian bawah piramid sehingga bagian atas piramid tersebut dapat dipanen.

Sistem horisontal dilaksanakan dengan cara menggeser media lama sehingga terdapat ruangan kosong. Kemudian ruangan kosong tersebut diisi dengan media baru. Cacing sedikit demi sedikit akan berpindah ke media baru, meninggalkan media lama sehingga media lama yang sudah menjadi casting dapat dengan mudah dipanen.

Sistem vertikal prinsipnya seperti sistem horisontal, hanya saja media baru diletakan di bawah media lama. Cacing akan berpindah ke media baru, sehingga media lama yang berada di atas akan ditinggalkan cacing. Sistem pancing dilakukan dengan meletakan pakan di atas media. Cacing akan berkumpul menyantap pakan yang berada di permukaan media. Pada saat ini cacing dapat dipisahkan dengan media.

3.6. Pembibitan Cacing

Setelah berumur dua tahun produktivitas cacing tanah sudah menurun sehingga perlu diganti dengan cacing yang masih produktif. Untuk itu aspek pembibitan cacing menjadi penting untuk dilaksanakan. Untuk pembibitan, cacing dewasa ditanam di media baru untuk menghasilkan kokon (telur) selama 3 sampai 4 minggu. Setelah terdapat banyak kokon, cacing induk dikeluarkan dan kokon tersebut dibiarkan menetas selama sekitar 6 minggu. Setelah itu setiap 2 minggu sekali media diganti dengan media baru sampai anakan cacing berumur 1 – 3 bulan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar