Sabtu, 30 Juni 2012

makalah kompos


KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan pertolongan sehingga penyusunan makalah “ TEKNOLOGI PENGOMPOSAN SAMPAH “ ini dapat terselesaikan. Makalah ini disusun mengingat semakin meningkatnya permasalahan masyarakat mengenai samapah terhadap lingkungan.
Dalam penyelesaian makalah ini, penulis banyak mendapat bantuan, bimbingan dan saran baik secara tertulis maupun secara lisan.
Maka pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
-       Kedua Orang tua dan saudara kami yang telah memberikan semangat dan motivasi dalam penyelesaian makalah ini.
-       Bapak Winson VS,S.ST  Selaku dosen pengampu Praktikum Penyehatan Tanah dan Pengelolaan Sampah – A.
Dalam penulisan makalah ini tentu banyak sekali kekurangan baik dari segi isi maupun penulisan. Jadi besar harapan penulis atas kritikan dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca sehingga dapat menjadi suatu masukan untuk kesempurnaan makalah berikutnya.
Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita khususnya para pembaca. Amin.
                                           


Pontianak, 13 Desember 2011
Tim Penulis

Kelompok 1

DAFTAR ISI








BAB I

 PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang

Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktifitas manusia. Setiap aktifitas manusia pasti menghasilkan sampah. Jumlah atau volume sampah sebanding dengan tingkat konsumsi kita terhadap barang/material yang kita gunakan sehari-hari. Demikian juga dengan jenis sampah, sangat tergantung dari jenis material yang kita konsumsi. Oleh karena itu pegelolaan sampah tidak bisa lepas juga dari ‘pengelolaan’ gaya hidup masyrakat. Masalah sampah sudah menjadi topik utama yang ada pada bangsa kita. Mulai dari lingkungan terkecil sampai kepada lingkup yang besar. Banyak hal yang menyebabkan terjadinya penumpukan sampah ini. Namun yang pasti faktor individu sangatlah berpengaruh dalam hal ini.
Salah satu dari pola hidup hijau yang dapat kita laksanakan adalah mengelola sampah organik rumah tangga, dengan membuatnya menjadi kompos. Kompos adalah pupuk yang dibuat dari sampah organik. Pembuatannya tidak terlalu rumit, tidak memerlukan tempat luas dan tidak memerlukan banyak peralatan dan biaya. Hanya memerlukan persiapan pendahuluan, sesudah itu kalau sudah rutin, tidak merepotkan bahkan selain mengurangi masalah pembuangan sampah, kompos yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sendiri, tidak perlu membeli. Mari membuat kompos skala rumah tangga.

B.                 Rumusan Masalah

1.      Untuk mengetahui Pengelolaan sampah dengan  membuatnya menjadi kompos.
2.      Untuk menambah wawasan tentang seputar kompos.
3.      Untuk mengetahui cara mengolah sampah metode pengomposan.
4.      Untuk mengetahui tentang standarisasi pembuatan kompos.
5.      Untuk mengetahui cirri-ciri kompos jadi.
6.      Untuk mengetahui cara penyimpanan kompos.
7.      Untuk mengethui keunggulan dan kekurngan kompos.
8.      Untuk mengetahui teknik pembuatan kompos rumah tangga.
9.      Untuk mengetahui skala rumah tangga.
10.  Untuk mengetahui bahan utama dari jerami.
11.  Untuk mengetahui pembuatan kompos dengan menggunakan Bioaktivator.

BAB II

PEMBAHASAN


A.                PENGELOLAAN SAMPAH DENGAN MEMBUATNYA MENJADI KOMPOS

1.      Pengertian Sampah Organik

Sampah Organik adalah merupakan barang yang dianggap sudah tidak terpakai dan dibuang oleh pemilik/pemakai sebelumnya, tetapi masih bisa dipakai kalau dikelola dengan prosedur yang benar. Organik adalah proses yang kokoh dan relatif cepat, maka tanda apa yang kita punya untuk menyatakan bahwa bahan-bahan pokok kehidupan, sebutlah molekul organik, dan planet-planet sejenis, ada juga di suatu tempat di jagad raya? sekali lagi beberapa penemuan baru memberikan rasa optimis yang cukup penting. Sampah organik adalah sampah yang bisa mengalami pelapukan (dekomposisi) dan terurai menjadi bahan yang lebih kecil dan tidak berbau (sering disebut dengan kompos).
Kompos merupakan hasil pelapukan bahan-bahan organik seperti daun-daunan, jerami, alang-alang, sampah, rumput, dan bahan lain yang sejenis yang proses pelapukannya dipercepat oleh bantuan manusia. Sampah pasar khusus seperti pasar sayur mayur, pasar buah, atau pasar ikan, jenisnya relatif seragam, sebagian besar (95%) berupa sampah organik sehingga lebih mudah ditangani. Sampah yang berasal dari pemukiman umumnya sangat beragam, tetapi secara umum minimal 75% terdiri dari sampah organik dan sisanya anorganik.

2.          Jenis-Jenis Sampah Organik

Sampah organik berasal dari makhluk hidup, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan, Sampah organik sendiri dibagi menjadi :
-       Sampah organik basah.
 Istilah sampah organik basah dimaksudkan sampah mempunyai kandungan air  yang cukup tinggi. Contohnya kulit buah dan sisa sayuran.
-        Sampah organik kering.
Sementara bahan yang termasuk sampah organik kering adalah bahan organik lain yang kandungan airnya kecil. Contoh sampah organik kering di antaranya kertas, kayu atau ranting pohon, dan dedaunan kering.


Jenis sampah organik yang bisa diolah menjadi kompos itu adalah :
1.      sampah sayur baru
2.      sisa sayur basi, tapi ini harus dicuci dulu, peras, lalu buang airnya
3.      sisa nasi
4.      sisa ikan, ayam, kulit telur
5.      sampah buah  (anggur, kulit jeruk, apel dll). Dalam keadaan terpotong2. tidak termasuk kulit buah yang keras seperti kulit salak.
Sampah organik yang tidak bisa diolah :
·         protein seperti daging, ikan, udang, juga lemak, santan, susu (karena mengundang lalat sehingga tumbuh belatung )
·         biji2 yang utuh atau keras seperti biji salak, asam, lengkeng, alpukat dan sejenisnya.
·         Buah utuh yang tidak dimakan karena busuk dan berair seperti pepaya, melon, jeruk, anggur.
Kompos berguna untuk memperbaiki struktur tanah, zat makanan yang diperlukan tumbuhan akan tersedia. Mikroba yang ada dalam kompos akan membantu penyerapan zat makanan yang dibutuhkan tanaman. Tanah akan menjadi lebih gembur. Tanaman yang dipupuk dengan kompos akan tumbuh lebih baik.
Pengomposan merupakan salah satu alternatif pengolahan limbah padat organik (organik solid waste) yang dapat diterapkan di Indonesia, mengingat bahan baku terutama sampah perkotaan (municipal waste) tersedia berlimpah, dan teknologi tepat guna untuk proses pengomposan pun telah cukup dikuasai. Dari sisi kepentingan lingkungan, pengomposan dapat mengurangi volume sampah perkotaan yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), karena sebagian di antaranya khususnya sampah padat organik dimanfaatkanulang dan diolah menjadi kompos.Dari sisi ekonomi, pengomposan sampah padat organik mengandung arti, bahwa barang yang semula tidak memiliki nilai ekonomis dan bahkan memerlukan biaya yang cukup mahal untuk menanganinya serta akhirakhir ini sering menimbulkan masalah sosial, ternyata dapat diubah menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomis cukup menjanjikan.

3.      Kelebihan Mengolah Sampah Organik

Berikut ini beberapa manfaat pembuatan kompos menggunakan sampah rumah tangga.
1.      Mampu menyediakan pupuk organik yang murah dan ramah lingkungan.
2.      Mengurangi tumpukan sampah organik yang berserakan di sekitar tempat  tinggal.
3.      Membantu pengelolaan sampah secara dini dan cepat.
4.      Menghemat biaya pengangkutan sampah ke tempat pembuangan akhir  (TPA).
5.      Mengurangi kebutuhan lahan tempat pembuangan sampah akhir (TPA).
6.      Menyelamatkan lingkungan dari kerusakan dan gangguan berupa bau, selokan macet, banjir, tanah longsor, serta penyakit yang ditularkan oleh serangga dan binatang pengerat.

4.      Kekurangan Mengolah Sampah Organik

Setelah menjadi pupuk kompos, pupuk siap untuk digunakan sebagai penyubur tanah. Adapun kekurangan pupuk kompos adalah unsur hara relatif lama diserap tumbuhan, pembuatannya lama, dan sulit dibuat dalam skala besar. Oleh karena itu untuk mendukung peningkatan hasil-hasil pertanian diperlukan pupuk buatan.

B.                 SEPUTAR  KOMPOS

1.      Pemahaman Tentang Kompos

Kompos merupakan hasil perombakan bahan organik oleh mikrobia dengan hasil akhir berupa kompos yang memiliki nisbah C/N yang rendah. Bahan yang ideal untuk dikomposkan memiliki nisbah C/N sekitar 30, sedangkan kompos yang dihasilkan memiliki nisbah C/N < 20. Bahan organik yang memiliki nisbah C/N jauh lebih tinggi di atas 30 akan terombak dalam waktu yang lama, sebaliknya jika nisbah tersebut terlalu rendah akan terjadi kehilangan N karena menguap selama proses perombakan berlangsung. Kompos yang dihasilkan dengan fermentasi menggunakan teknologi mikrobia efektif dikenal dengan nama bokashi. Dengan cara ini proses pembuatan kompos dapat berlangsung lebih singkat dibandingkan cara konvensional.
Pengomposan pada dasarnya merupakan upaya mengaktifkan kegiatan mikrobia agar mampu mempercepat proses dekomposisi bahan organik. Yang dimaksud mikrobia disini bakteri, fungi dan jasad renik lainnya. Bahan organik disini merupakan bahan untuk baku kompos ialah jerami, sampah kota, limbah pertanian, kotoran hewan/ ternak dan sebagainya.
Cara pembuatan kompos bermacammacam tergantung: keadaan tempat pembuatan, buaday orang, mutu yang diinginkan, jumlah kompos yang dibutuhkan, macam bahan yang tersedia dan selera si pembuat. Yang perlu diperhatikan dalam proses pengomposan ialah:
a.       Kelembaban timbunan bahan kompos. Kegiatan dan kehidupan mikrobia sangat dipengaruhi oleh kelembaban yang cukup, tidak terlalu kering maupun basah atau tergenang.
b.      Aerasi timbunan. Aerasi berhubungan erat dengan kelengasan. Apabila terlalu anaerob mikrobia yang hidup hanya mikrobia anaerob saja, mikrobia aerob mati atau terhambat pertumbuhannya. Sedangkan bila terlalu aerob udara bebas masuk ke dalam timbunan bahan yang dikomposkan umumnya menyebabkan hilangnya nitrogen relatif banyak karena menguap berupa NH3.
c.       Temperatur harus dijaga tidak terlampau tinggi (maksimum 60 0C). Selama pengomposan selalu timbul panas sehingga bahan organik yang dikomposkan temparaturnya naik; bahkan sering temperatur mencapai 60 0C. Pada temperatur tersebut mikrobia mati atau sedikit sekali yang hidup. Untuk menurunkan temperatur umumnya dilakukan pembalikan timbunan bakal kompos.
d.      Suasana. Proses pengomposan kebanyakan menghasilkan asamasam organik, sehingga menyebabkan pH turun. Pembalikan timbunan mempunyai dampak netralisasi kemasaman.
e.       Netralisasi kemasaman sering dilakukan dengan menambah bahan pengapuran misalnya kapur, dolomit atau abu. Pemberian abu tidak hanya menetralisasi tetapi juga menambah hara Ca, K dan Mg dalam kompos yang dibuat.
f.       Kadangkadang untuk mempercepat dan meningkatkan kualitas kompos, timbunan diberi pupuk yang mengandung hara terutama P. Perkembangan mikrobia yang cepat memerlukan hara lain termasuk P. Sebetulnya P disediakan untuk mikrobia sehingga perkembangannya dan kegiatannya menjadi lebih cepat. Pemberian hara ini juga meningkatkan kualitas kompos yang dihasilkan karena kadar P dalam kompos lebih tinggi dari biasa, karena residu P sukar tercuci dan tidak menguap.


2.  Manfaat Kompos

Pada dasarnya kompos dapat meningkatkan kesuburan kimia dan fiisik tanah yang selanjutnya akan meningkatkan produksi tanaman. Pada tanaman hortikultura (buahbuahan, tanaman hias, dan sayuran) atau tanaman yang sifatnya perishable ini hampir tidak mungkin ditanam tanpa kompos. Demikian juga di bidang perkebunan, penggunaan kompos terbukti dapat meningkatkan produksi tanaman. Di bidang kehutanan, tanaman akan tumbuh lebih baik dengan kompos. Sementara itu, pada perikanan, umur pemeliharaan ikan berkurang dan pada tambak, umur pemeliharaan 7 bulan menjadi 56 bulan.
Kompos membuat rasa buahbuahan dan sayuran lebih enak, lebih harum dan lebih masif. Hal inilah yang mendorong perkembangan tanaman organik, selain lebih sehat dan aman karena tidak menggunakan pestisida dan pupuk kimia rasanya lebih baik, lebih getas, dan harum. Penggunaan kompos sebagai pupuk organik saja akan menghasilkan produktivitas yang terbatas. Penggunaan pupuk buatan saja (urea, SP, MOP, NPK) juga akan memberikan produktivitas yang terbatas. Namun, jika keduanya digunakan saling melengkapi, akan terjadi sinergi positif. Produktivitas jauh lebih tinggi dari pada penggunaan jenis pupuk tersebut secara masingmasing.
Selain itu, air lindi yang dianggap mencemarkan sumur di lingkungan TPA dapat dijadikan pupuk cair atau diolah terlebih dahulu sebelum dialirkan ke saluran umum. Keuntungan lainnya dengan dihilangkannya TPA (tempat pembuangan akhir) dan diganti dengan TPK (tempat pengolahan kompos) alias pabrik kompos, lahan untuk sampah ini tidak berpindahpindah, cukup satu tempat untuk kegiatan yang berkesinambungan. Bagaimana Kompos Terjadi?
Sampah organik secara alami akan mengalami peruraian oleh berbagai jenis mikroba, binatang yang hidup di tanah, enzim dan jamur. Proses peruraian ini memerlukan kondisi tertentu, yaitu suhu, udara dan kelembaban. Makin cocok kondisinya, makin cepat pembentukan kompos, dalam 4 – 6 minggu sudah jadi. Apabila sampah organik ditimbun saja, baru berbulanbulan kemudian menjadi kompos. Dalam proses pengomposan akan timbul panas krn aktivitas mikroba. Ini pertanda mikroba mengunyah bahan organik dan merubahnya menjadi kompos. Suhu optimal untk pengomposan dan harus dipertahankan adalah 4565C.Jika terlalu panas harus dibolakbalik, setidaktidaknya setiap 7hari.

3.  Spesifikasi Kompos

a.   Kandungan Hara

Kompos yang baik mengandung unsur hara makro Nitrogen > 1,5 % , P2O5 (Phosphat) > 1 % dan K20 (Kalium ) > 1,5 %, disamping unsur mikro lainnya. C/N ratio antara 1520 , diatas atau dibawah itu kurang baik. Untuk kepentingan bisnis, pupuk kompos yang dihasilkan harus mempunyai kualitas yang ajek dan supply yang berkesinambungan.
Pupuk kompos untuk tanaman organik, jika unsur haranya kurang dapat ditambah dengan bahan organik lainnya. Nitrogen dapat ditambahkan urine ternak, mikroba pengikat Nitrogen, pupuk organik yang berasal dari hewani seperti ikan, darah, dll. Phosphat dapat ditambahkan dari pupuk guano atau rock phosphat, dapat juga dicampurkan dengan mikroba pelepas phosphat. Kalium dapat ditambahkan dari arang/abu batok kelapa/kelapa sawit, abu bekas incenerator, dll.
Pupuk kompos yang tidak diperuntukkan bagi tanaman organik, selain dari campuran di atas dapat pula diberikan campuran dengan pupuk buatan. Jadi, pupuk seperti ini hanya dipergunakan untuk tanaman nonorganik. Karena bahan baku sampah tidak tetap, diperlukan campuran dengan bahan lain agar kualitasnya terjaga. Quality control harus diterapkan di sini, sehingga orang yang membeli benarbenar puas.

b.      Jenis kompos

Produksi kompos dapat dibedakan ke dalam tiga kelompok :
1.      Kompos murni. Pupuk ini ditujukan untuk lahan tanaman organik, namun juga dapat digunakan untuk lahan pertanian nonorganik.
2.      Kompos plus mikroba (pengikat N dan pelepas P). Pupuk yang telah diperkaya ini juga diperuntukkan untuk lahan pertanian organik, namun juga dapat digunakan untuk lahan pertanian nonorganik (biasa).
3.      Kompos plus pupuk buatan. Pupuk ini hanya dapat digunakan untuk lahan pertanian non organik.



Kompos apabila dilihat dari proses pembuatannya dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu :
1.      Kompos Yang Diproses Secara Alami
Yang dimaksud dengan pembuatan kompos secara alami adalah pembuatan kompos yang dalam proses pembuatannya berjalan dengan sendirinya, dengan sedikit atau tanpa campur tangan manusia. Manusia hanya membantu mengumpulkan bahan, menyusun bahan, untuk selanjutnya proses composting / pengomposan berjalan dengan sendirinya. Kompos yang dibuat secara alami memerlukan waktu pembuatan yang lama, yaitu mencapai waktu 3 – 4 bulan bahkan ada yang mencapai 6 bulan dan lebih.
2.      Kompos Yang Dibuat Dengan Campur Tangan Manusia
Yang dimaksud dengan pembuatan kompos dengan campur tangan manusia adalah pembuatan kompos yang sejak dari penyiapan bahan (pengadaan bahan dan pemilihan bahan), perlakuan terhadap bahan, pencampuran bahan, pengaturan temperatur, pengaturan kelembaban dan pengaturan konsentrasi oksigen, semua dilakukan dibawah pengawasan manusia.
Proses pembuatan kompos yang dibuat dengan campur tangan manusia biasanya dibantu dengan penambahan bioaktivator pengurai bahan baku kompos. Aktivator pembuatan kompos terdapat bermacammacam merk dan produk, tetapi yang paling penting dalam menentukan aktivator ini adalah bukan merk aktivatornya, akan tetapi apa yang terkandung didalam aktivator tersebut, berapa lama aktivator tersebut telah diuji cobakan, apakah ada pengaruh dari unsur aktivator tersebut terhadap manusia, terhadap ternak, terhadap tumbuhtumbuhan maupun pengaruh terhadap organisme yang ada di dalam tanah atau dengan kata lain pengaruh terhadap lingkungan hidup disamping itu juga harus dilihat hasil kompos seperti apa yang diperoleh.
Tujuan dari pembuatan kompos yang diatur secara cermat seperti sudah disinggung diatas adalah untuk mendapatkan hasil akhir kompos jadi yang memiliki standar kualitas tertentu. Diantaranya adalah memiliki nilai C/N ratio antara 10 – 12. Kelebihan dari cara pembuatan kompos dengan campur tangan manusia dan menggunakan bahan aktivator adalah proses pembuatan kompos dapat dipercepat menjadi 2 – 4 minggu.

C.            METODE PEMBUATAN KOMPOS

1.      Sistim Windrow

Windrow sistim adalah proses pembuatan kompos yang paling sederhana dan paling murah. Bahan baku kompos ditumpuk memanjang , tinggi tumpukan 0.6 sampai 1 meter, lebar 25 meter. Sementara itu panjangnya dapat mencapai 40 – 50 meter. Sistim ini memanfaatkan sirkulasi udara secara alami. Optimalisasi lebar, tinggi dan panjang nya tumpukan sangat dipengaruhi oleh keadaan bahan baku, kelembaban, ruang pori, dan sirkulasi udara untuk mencapai bagian tengah tumpukan bahan baku. Idealnya adalah pada tumpukan bahan baku ini harus dapat melepaskan panas, untuk mengimbangi pengeluaran panas yang ditimbulkan sebagai hasil proses dekomposisi bahan organik oleh mikroba. Windrow sistim ini merupakan sistim proses komposting yang baik yang telah berhasil dilakukan di banyak tempat untuk memproses pupuk kandang, sampah kebun, lumpur selokan, sampah kota dll. Untuk mengatur temperatur, kelembaban dan oksigen, pada windrow sistim ini, maka dilakukan proses pembalikan secara periodik Inilah secara prinsip yang membedakannya dari sistim pembuatan kompos yang lain. Kelemahan dari sistim Windrow ini adalah memerlukan areal lahan yang cukup luas.

2.      Sistim Aerated Static Pile

Sistim pembuatan kompos lainnya yang lebih maju adalah Aerated Static Pile. Secara prinsip proses komposting ini hampir sama, dengan windrow sistim, tetapi dalam sistim ini dipasang pipa yang dilubangi untuk mengalirkan udara. Udara ditekan memakai blower. Karena ada sirkulasi udara, maka tumpukan bahan baku yang sedang diproses dapat lebih tinggi dari 1 meter. Proses itu sendiri diatur dengan pengaliran oksigen. Apabila temperatur terlalu tinggi, aliran oksigen dihentikan, sementara apabila temperatur turun aliran oksigen ditambah. Karena tidak ada proses pembalikan, maka bahan baku kompos harus dibuat sedemikian rupa homogen sejak awal. Dalam pencampuran harus terdapat rongga udara yang cukup. Bahanbahan baku yang terlalu besar dan panjang harus dipotongpotong mencapai ukuran 4 – 10 cm.

3.      Sistim In Vessel

Sistim yang ke tiga adalah sistim In Vessel Composting. Dalam sistim ini dapat mempergunakan kontainer berupa apa saja, dapat silo atau parit memanjang. Karena sistim ini dibatasi oleh struktur kontainer, sistim ini baik digunakan untuk mengurangi pengaruh bau yang tidak sedap seperti bau sampah kota. Sistim in vessel juga mempergunakan pengaturan udara sama seperti sistim Aerated Static Pile. Sistim ini memiliki pintu pemasukan bahan kompos dan pintu pengeluaran kompos jadi yang berbeda.

D.                STANDARISASI PEMBUATAN KOMPOS

Dengan mengetahui bahwa kualitas kompos sangat dipengaruhi oleh proses pengolahan, sedangkan proses pengolahan kompos sendiri sangat dipengaruhi oleh kelembaban dan perbandingan C dan N bahan baku, maka untuk menentukan standarisasi kompos adalah dengan membuat standarisasi proses pembuatan kompos serta standarisasi bahan baku kompos, sehingga diperoleh kompos yang memiliki standar tertentu. Setelah standar campuran bahan baku kompos dapat dipenuhi yaitu kelembaban ideal 50 – 60 persen dan mempunyai perbandingan C / N bahan baku 30 : 1, masih terdapat hal lain yang harus sangat diperhatikan selama proses pembuatan kompos itu berlangsung, yaitu harus dilakukan pengawasan terhadap:

1.      Pengamatan Temperatur

Temperatur adalah salah satu indikator kunci di dalam pembuatan kompos.
a.       Apakah panasnya naik ?
b.      Sampai temperatur berapa panas yang dapat dicapai ?
c.       Dalam berapa lama panas tersebut dapat dicapai ?
d.      Berapa lama panas tersebut dapat berlangsung ?
e.       Apa arti dari keadaan‐keadaan tersebut ?
f.       Campuran bahan‐bahan seperti apa yang dapat mempengaruhi profil temperatur ?
Panas ditimbulkan sebagai suatu hasil sampingan proses yang dilakukan oleh mikroba untuk mengurai bahan organik. Temperatur ini dapat digunakan untuk mengukur seberapa baik sistim pengomposan ini bekerja, disamping itu juga dapat diketahui sejauh mana dekomposisi telah berjalan. Sebagai ilustrasi, jika kompos naik sampai temperatur 40°C – 50°C, maka dapat disimpulkan bahwa campuran bahan baku kompos cukup mengandung bahan Nitrogen dan Carbon dan cukup mengandung air (kelembabannya cukup) untuk menunjang pertumbuhan microorganisme. Pengamatan temperatur harus dilakukan dengan menggunakan alat uji temperatur yang dapat mencapai jauh ke dalam tumpukan kompos. Tunggu sampai beberapa saat sampai temperatur stabil. Kemudian lakukan lagi di tempat yang berbeda. Lakukanlah pengamatan tersebut di beberapa lokasi, termasuk pada berbagai kedalaman dari tumpukkan kompos. Kompos dapat memiliki kantong‐kantong yang lebih panas dan ada kantong‐kantong yang dingin. Semuanya sangat bergantung kepada kandungan uap air (kelembaban) dan komposisi kimia bahan baku kompos. Maka akan diperoleh peta gradient temperatur. Dengan menggambarkan grafik temperatur dan lokasi‐lokasinya sejalan dengan bertambahnya waktu, maka dapat dijelaskan:
·         Sudah berapa jauh proses dekomposisi berjalan
·         Seberapa baik komposisi campuran bahan baku tersebut
·         Seberapa rata campuran tersebut dan dibagian mana campuran tidak rata
·         Dibagian mana sirkulasi udara berjalan normal dan dibagian mana kurang normal.
Dari informasi diatas, maka dapat diambil keputusan langkah‐langkah apa yang harus dilakukan untuk mencapai hasil akhir dan memperoleh kompos dengan kualitas yang diinginkan. Pada proses komposting yang baik, maka temperatur 40°C – 50 0C dapat dicapai dalam 2 – 3 hari. Kemudian dalam beberapa hari berikutnya temperatur akan meningkat sampai bahan baku yang didekomposisi oleh mikroorganisme habis. Dari situ barulah temperatur akan turun.
Dari beberapa kali proses pembuatan kompos dengan sistim Windrow, dengan memakai campuran bahan baku kompos terdiri dari kotoran sapi, kotoran ayam, kotoran kambing, dedak dan jerami, perubahan temperatur mencapai 40°C – 50 °C dapat dicapai dalam waktu 3 (tiga) hari. Oleh karena itu pembalikan kompos dilakukan pada hari ke 4 (empat). Setelah pembalikan pertama temperatur akan turun, lalu naik lagi sampai mencapai 55°C – 60°C pada hari ke 6. Oleh karena itu dilakukan lagi pembalikan ke dua pada hari ke 6 (enam) atau 3 hari setelah pembalikan pertama, setelah pembalikkan temperatur akan turun dan naik lagi sampai 55°C – 60°C pada hari ke 9 (sembilan). Pada hari ke 9 (sembilan) ini atau 3 hari setalah pembalikkan ke dua dilakukan lagi pembalikan ke 3 (tiga). Apabila komposisi campuran bahan baku tepat, temperatur akan stabil sampai hari ke 12 (dua belas) dan seterusnya, untuk kemudian turun dan stabil pada temperatur tertentu. Pada hari ke 14 tumpukan kompos dapat mulai dibuka untuk didinginkan dan kemudian selanjutnya dilakukan penyaringan dan pengepakan.

2.      Pengamatan Kelembaban

Pembuatan kompos akan berlangsung dengan baik pada satu keadaan campuran bahan baku kompos yang memiliki kadar uap air antara 40 – 60 persen dari beratnya. Pada keadaan level uap air yang lebih rendah, aktivitas mikroorganisme akan terhambat atau berhenti sama sekali. Pada keadaan level kelembaban yang lebih tinggi, maka prosesnya kemungkinan akan anerobik, yang akan menyebabkan timbulnya bau busuk.
Ketika bahan baku kompos dipilih untuk kemudian dicampur, kadar uap air dapat diukur atau diperkirakan. Setelah proses pembuatan kompos berlangsung, pengukuran kelembaban tidak perlu diulangi, tetapi dapat langsung diamati tingkat kecukupan kandungan uap air tersebut. Apabila proses pembuatan kompos sedang berjalan, lalu kemudian muncul bau busuk, sudah dapat dipastikan kompos mengandung kadar air berlebihan. Kelebihan uap air ini telah mengisi ruang pori, sehingga menghalangi diffusi oksigen melalui bahan‐bahan kompos tersebut. Inilah yang membuat keadaan menjadi anaerobik.
Apabila melakukan pembuatan kompos dengan memakai sistim aerated static pile ataupun sistim in Vessel, berhati‐hatilah dalam menambahkan udara (oksigen), jangan sampai menyebabkan kompos menjadi kering . Indikasinya adalah perhatikan temperatur, jika temperatur menurun lebih cepat dari biasanya, maka ada kemungkinan kompos terlalu kering.

3.      Pengamatan Odor / Aroma

Jika proses pembuatan kompos berjalan dengan normal, maka tidak boleh menghasilkan bau yang menyengat (bau busuk). Walaupun demikian dalam pembuatan kompos tidak akan terbebas sama sekali dari adanya bau. Dengan memanfaatkan indra penciuman, dapat dijadikan sebagai alat untuk mendeteksi permasalahan yang terjadi selama proses pembuatan kompos. Sebagai gambaran, jika tercium bau amonia, patut diduga campuran bahan kompos kelebihan bahan yang mengandung unsur Nitrogen (ratio C/N terlalu rendah). Untuk mengatasinya tambahkanlah bahan‐bahan yang mengandung C/N tinggi, misalnya berupa:
·         Potongan jerami, atau
·         Potongan kayu, atau
·         Serbuk gergaji, atau
·         Potongan kertas koran dan atau karton dll
Jika tercium bau busuk, mungkin campuran kompos terlalu banyak mengandung air. Apabila ini terjadi, lakukanlah pembalikan (pada sistim windrow), tambahkan oksigen pada sistim Aerated Static Pile atau In Vessel.

4.      Pengamatan Ph

Pengamatan pH kompos berfungsi sebagai indikator proses dekomposisi kompos. Mikroba kompos akan bekerja pada keadaan pH netral sampai sedikit masam, dengan kisaran pH antara 5.5 sampai 8. Selama tahap awal proses dekomposisi, akan terbentuk asam‐asam organik. Kondisi asam ini akan mendorong pertumbuhan jamur dan akan mendekomposisi lignin dan selulosa pada bahan kompos. Selama proses pembuatan kompos berlangsung, asam‐asam organik tersebut akan menjadi netral dan kompos menjadi matang biasanya mencapai pH antara 6 – 8. Jika kondisi anaerobik berkembang selama proses pembuatan kompos, asam‐asam organik akan menumpuk. Pemberian udara atau pembalikan kompos akan mengurangi kemasaman ini. Penambahan kapur dalam proses pembuatan kompos tidak dianjurkan. Pemberian kapur (Kalsium Karbonat, CaCo3) akan menyebabkan terjadinya kehilangan nitrogen yang berubah menjadi gas Amoniak. Kehilangan ini tidak saja menyebabkan terjadinya bau, tetapi juga menimbulkan kerugian karena menyebabkan terjadinya kehilangan unsur hara yang penting, yaitu nitrogen. Nitrogen sudah barang tentu lebih baik disimpan dalam kompos untuk kemudian nanti digunakan oleh tanaman untuk pertumbuhannya.

E.                 CIRI‐CIRI KOMPOS JADI

Setelah semua proses pembuatan kompos dilakukan, mulai dari pemilihan bahan, pengadaan bahan, perlakuan bahan, penyusunan bahan, pencampuran bahan, pengamatan proses, pembalikan kompos sampai dengan jadi kompos. Selanjutnya adalah pengetesan sederhana terhadap kompos.
Ciri‐ciri kompos sudah jadi dan baik adalah:
1)      Warna, warna kompos biasanya coklat kehitaman
2)      Aroma, kompos yang baik tidak mengeluarkan aroma yang menyengat, tetapi mengeluarkan aroma lemah seperti bau tanah atau bau humus hutan
3)      Apabila dipegang dan dikepal, kompos akan menggumpal. Apabila ditekan dengan lunak, gumpalan kompos akan hancur dengan mudah.

F.                 PENYIMPANAN KOMPOS

Kompos apabila sudah jadi, sebaiknya disimpan sampai 1 atau 2 bulan untuk mengurangi unsur beracun, walaupun penyimpanan ini akan menyebabkan terjadinya sedikit kehilangan unsur yang diperlukan seperti Nitrogen. Tetapi secara umum kompos yang disimpan dahulu lebih baik. Penyimpanan kompos harus dilakukan dengan hati‐hati, terutama yang harus dijaga adalah:
1)      Jaga kelembabannya jangan sampai < 20 persen dari bobotnya
2)      Jaga jangan sampai kena sinar matahari lansung (ditutup)
3)      Jaga jangan sampai kena air / hujan secara langsung (ditutup)
Apabila akan dikemas, pilih bahan kemasan yang kedap udara dan tidak mudah rusak. Bahan kemasan tidak tembus cahaya matahari lebih baik. Kompos merupakan bahan yang apabila berubah, tidak dapat kembali ke keadaan semula (Ireversible). Apabila kompos mengering, unsur hara yang terkandung didalamnya akan ikut hilang bersama dengan air dan apabila kompos ditambahkan air kembali maka unsur hara yang hilang tadi tidak dapat kembali lagi. Demikian juga dengan pengaruh air hujan. Apabila kompos kehujanan, unsur hara akan larut dan terbawa air hujan. Kemasan kompos sebaiknya bahan yang kedap adalah untuk menghindarkan kehilangan kandungan air. Kemasan yang baik membuat Kompos mampu bertahan sampai lebih dari 3 tahun.

G.                KEUNGGULAN DAN KEKURANGAN KOMPOS

Pupuk organik mempunyai sangat banyak kelebihan namun juga memiliki kekurangan bila dibandingkan dengan pupuk buatan atau kimi (anorganik).

1.      Kekurangan

Kandungan unsur hara jumlahnya kecil, sehingga jumlah pupuk yang diberikan harus relatif banyak bila dibandingkan dengan pupuk anorganik. Karena jumlahnya banyak, menyebabkan memerlukan tambahan biaya operasional untuk pengangkutan dan implementasinya.
Dalam jangka pendek, apalagi untuk tanah‐tanah yang sudah miskin unsur hara, pemberian pupuk organik yang membutuhkan jumlah besar sehingga menjadi beban biaya bagi petani. Sementara itu reaksi atau respon tanaman terhadap pemberian pupuk organik tidak se‐spektakuler pemberian pupuk buatan.

2.      Keunggulan

Pupuk organik mengandung unsur hara yang lengkap, baik unsur hara makro maupun unsur hara mikro. Kondisi ini tidak dimiliki oleh pupuk buatan (anorganik). Pupuk organik mengandung asam ‐ asam organik, antara lain asam humic, asam fulfic, hormon dan enzym yang tidak terdapat dalam pupuk buatan yang sangat berguna baik bagi tanaman maupun lingkungan dan mikroorganisme.Pupuk organik mengandung makro dan mikro organisme tanah yang mempunyai pengaruh yang sangat baik terhadap perbaikan sifat fisik tanah dan terutama sifat biologis tanah.
1.      Memperbaiki dan menjaga struktur tanah.
2.      Menjadi penyangga pH tanah.
3.      Menjadi penyangga unsur hara anorganik yang diberikan.
4.      Membantu menjaga kelembaban tanah
5.      Aman dipakai dalam jumlah besar dan berlebih sekalipun
6.      Tidak merusak lingkungan.

STANDAR KUALITAS KOMPOS MENURUT BANK DUNIA
(PERSYARATAN MINIMUM BAGI PROGRAM SUBSIDI KOMPOS) PARAMETER KUALITAS
SATUAN
STANDAR KUALITAS
1
KUALITAS UMUM
a.
Kadar Air
%
< 45
b.
C/N Ratio
Dimensionless
< 20
2
KADAR LOGAM BERAT
a.
Cr (Khrom)
mg/kg berat kering
< 45
b.
Cu (Tembaga)
mg/kg berat kering
< 150
c.
Pb (Timbal)
mg/kg berat kering
< 150
d.
Zn (Seng)
mg/kg berat kering
< 400

H.                TEKNIK PEMBUATAN KOMPOS

1.      Pembuatan Kompos Rumah Tangga I

Prinsip pengomposan Sampah rumah tangga mengandung bahan organik + 75%. Proses pengomposanmenyesuaikan diri dengan tersedianya bahan baku, yang tidak sekaligus terkumpul dalam jumlah besar, melainkan sedikit demi sedikit setiap hari. Kondisi ini seperti terjadi di alam di lantai hutan, dimana sisa‐sisa organik jatuh keatas tanah selapis demi selapis sampai menjadi tebal. Proses perombakan‐fermentasi organisme tanah terjadi dari bawah merambat ke atas mengejar bahan baku yang baru jatuh, diikuti terbentuknya humus dari bawah ke atas pula. Kecepatan pengomposansangat tergantung a.1. pada komposisi bahan baku, perbandingan kadar C (bahan berserat tinggi)dengan kadar N (jenis kacangan, pupuk kandang, dsb.). Untuk bahan baku kompos yang optimalperbandingan C/N = + 30, hasil akhir humus atau kompos yang matang C/N = 12‐15
Cara dan Alat Membuat kompos yang sebenarnya mudah dan sederhana, tetapi karena lokasinya dipekarangan rumah harus bebas dari polusi bau, lalat, binatang berbahaya dan bebas dari gangguanayam, anjing, kucing, dsb. Apalagi sisa‐sisa organik tidak terkumpul sekaligus tetapi berangsur setiap haridari buangan dapur dan kotoran pekarangan.
Untuk pembuatan kompos di pekarangan rumah, dibutuhkan dua macam wadah :
·         Wadah besar, penampung bahan baku dan tempat terjadinya proses pengomposan, yangdisebut "Komposter" dan ditaruh di pekarangan di tempat teduh.
·         Wadah kecil berupa ember plastik kecil bertutup, tempat penampungan sementara sisa organik dapur.
Alat Komposter paling praktis dan aman adalah alat yang direkomendasikan STU Campbell (buku "let ItRot", Storey Books, Vermont 1998) untuk dipakai di pekarangan rumah. Komposter ini dibuat dari drum bekas 200 liter, dinding atas dibuang, dan dinding dasar pada tengahnya dilobangi untuk dapat dimasukipipa PVC 3‐4 inci, yang juga berfungsi drainase.
Pada pipa PVC berjarak 5 cm dibuat lobang (bor) sepanjang empat sisinya. Drum dipasang berdiri, diberiganjal 2‐3 lapis batu bata. Pipa PVC dimasukkan ke lobang dasar, sampai ujung bawah menyentuh tanahdan ujung atas menonjol keatas drum + 10 cm, menembus tengah‐tengah tutup tambahan (bisa dibuat dari tripleks). Ember Kecil Ember plastik 5 l ‐ 10 l yang ada tutupnya, disediakan khusus untuk penampungan sementara (1‐2 hari) sisa organik dapur dan selalu ditaruh di dapur dalam keadaantertutup.
Cara Kerja Komposter (drum) ditaruh di pekarangan di tempat teduh. Sebaiknya dibuatkan tutup atasdari tripleks yang tengahnya berlobang tempat munculnya pipa PVC. Setiap kali pembersihan halaman,kotoran berupa rontokan daun, potongan pagar rumput, dll dimasukkan ke dalam komposter, diratakan,sedikit dipadatkan dan diatasnya ditaburi selapis kotoran ternak lama, kompos baru atau setengah matang, tanah subur hitam, dsb. Untuk mempercepat dapat menggunakan bio activator (MiG Decomposer) sebagai mikroorganisme starternya. Kalau terlalu kering diberi air agar lembab dan ditutup untuk mencegah dari hujan berlebihan, terikmatahari dan pencemaran lalat. Untuk memudahkan didekat komposter disediakan wadah berisi starter (kotoran ternak, dll) yang selalu ditutup. Setiap satu atau dua hari sekali, kotoran dapur dalam emberkecil yang sudah penuh, juga dimasukkan, diratakan dan dilapisi starter.
Demikian pengisian dilakukan setiap kali terkumpul sisa organik atau kotoran dapur baru, sampai komposter penuh, yang memakan waktu 1 bulan ‐ 2 bulan untuk keluarga sedang. Setelah penuh, ditutup dan dibiarkan tidak dibalik‐balik selama + 1 bulan yang diperkirakan pengomposan sudah selesaimenjadi matang berupa kompos berwarna hitam, remah dan berbau segar. Komposter dikosongkan,isinya diangin‐anginkan, langsung dapat dipergunakan sendiri atau disaring (saringan kawat kasa)dibungkus dan dijual.
Proses pengomposan terjadi sejak awal bahan organik dimasukkan, dan merambat keatas mengikuti bahan organik baru. Disini akan terjadi proses fermentasi panas oleh bakteri termofilik, karena suhudapat meningkat didalam komposter tertutup, yang juga berguna membunuh bibit hama  penyakit dan gulma. Komposter I yang sudah penuh dan sedang dalam proses pemasakkan, digantikan komposter IIyang sudah disiapkan dan nanti setelah komposter I selesai dokosongkan, disiapkan untuk menggantikankomposter II bila sudah penuh, dst.
Sisa organik dapur terdiri dari potongan / kulit sayuran, kulit buah lunak, daun pembungkus, kertas, sisa lauk-pauk, dipisahkan dari sisa / sampah non organik. Sisa dapur tersebut dimasukkan kedalam emberkecil dan yang non organik ditampung dalam wadah lain untuk dibuang di bak sampah.
Setiap kali memasukkan sisa organik dapur yang mudah busuk (sisa lauk-pauk), diatasnya langsung ditaburi selapis serbuk gergaji halus rapat-rapat. Maka di dapur selalu disediakan serbuk gergaji halusdalam wadah khusus. Ember kecil harus selalu ditutup rapat dan biasanya dalam 1-2 hari sudah penuh, lalu langsung dibawa ke kebun dimasukkan ke dalam komposter, dan ditaburi selapis starter diatasnya.Agar ember plastik tidak kotor, sebaiknya dilapisi kantong plastik sehingga sisa organik dapur yangmudah busuk dapat ditampung dengan aman dan rapat.
Apabila dapat terwujud setiap rumah tangga mau dan mampu mendaur ulang sampah organik pekarangan, dan dapurnya menjadi kompos, maka sampah rumah tangga yang dibuang tinggal sedikit dan tidak menimbulkan polusi lingkungan. Sampah yang dibuang tinggal berupa limbah non organik seperti barang-barang bekas plastik, kaleng, besi, dll dan sedikit limbah organik keras seperti barang-barang bekas dari kayu, bambu, kardus, kulit buah keras dan kebanyakan barang-barang tersebut dapat dimanfaatkan lewat para pemulung.
Dengan cara ini hampir semua bahan organik dapat didaur ulang sehingga masalah sampah kota dapat diatasi secara sehat dan mendukung keselamatan bumi. Tinggal satu hal, dimana manusia belumberhasil menyambung siklus daur ulang yang terputus, yaitu masalah kotoran (taeces) dan urine manusia karena masih terbentur pada masalah budaya.

2.      Pembuatan kompos rumah tangga II

Di dalam rumah ( ruang keluarga, kamar makan ) dan di depan dapur disediakan 2 tempat sampah yang berbeda warna untuk sampah organik dan sampah non organik. Diperlukan bak plastic atau drum bekas untuk pembuatan kompos. Di bagian dasarnya diberi beberapa lubang untuk mengeluarkan kelebihan air. Untuk menjaga kelembaban bagian atas dapat ditutup dengan karung goni atau anyaman bambu. Dasar bak pengomposan dapat tanah atau paving block, sehingga kelebihan air dapat merembes ke bawah. Bak pengomposan tidak boleh kena air hujan, harus di bawah atap.
Cara Pengomposan :
·         Campur 1 bagian sampah hijau dan 1 bagian sampah coklat.
·         Tambahkan 1 bagian kompos lama atau lapisan tanah atas (top soil) dan dicampur. Tanah atau kompos ini mengandung mikroba aktif yang akan bekerja mengolah sampah menjadi kompos. Jika ada kotoran ternak ( ayam atau sapi ) dapat pula dicampurkan .
·         Pembuatan bisa sekaligus, atau selapis demi selapis misalnya setiap 2 hari ditambah sampah baru. Setiap 7 hari diaduk.
·         Pengomposan selesai jika campuran menjadi kehitaman, dan tidak berbau sampah. Pada minggu ke‐1 dan ke‐2 mikroba mulai bekerja menguraikan membuat kompos, sehingga suhu menjadi sekitar 40C. Pada minggu ke‐5 dan ke‐6 suhu kembali normal, kompos sudah jadi.
·         Jika perlu diayak untuk memisahkan bagian yang kasar. Kompos yang kasar bisa dicampurkan ke dalam bak pengomposan sebagai activator.
·         Keberhasilan pengomposan terletak pada bagaimana kita dapat mengendalikan suhu, kelembaban dan oksigen, agar mikroba dapat memperoleh lingkungan yang optimal untuk berkembang biak, ialah makanan cukup (bahan organik), kelembaban (30‐50%) dan udara segar (oksigen) untuk dapat bernapas.
·         Sampah organik sebaiknya dicacah menjadi potongan kecil. Untuk mempercepat pengomposan, dapat ditambahkan bio‐activator berupa larutan effective microorganism (EM) yang dapat dibeli di toko pertanian.

I.                   PENGOMPOSAN SKALA RUMAH TANGGA

PENGOMPOSAN adalah proses penguraian materi organik oleh mikroorganisme secara aerobic dalam kondisi yang terkendali menjadi produk stabil seperti humus. Rata-rata produksi sampah rumah tangga di Indonesia 2,6 liter per orang/ hari atau rata-rata 15 liter/keluarga per hari. Sekitar 50 – 80 % ( 7,5 – 12,5 liter ) merupakan sampah organik, yang dapat diolah menjadi kompos. Manfaat yang diperoleh dari segi teknologi yaitu: Penerapan teknik penanggulangan sampah yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan teknik yang lain seperti landfill & pembakaran; mudah dipelajari dan diterapkan; dan membutuhkan modal yang relatif sedikit. Dari segi ekonomi: menghemat biaya pengelolaan sampah dan dapat memenuhi kebutuhan pupuk organik sendiri. Dari segi ekologi: mngurangi pencemaran akibat sampah dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat; mendukung upaya pelestarian sumber daya alam; dan mengurangi pemakaian pestisida & herbisida. Sedangkan dari segi sosial: menciptakan kesempatan kerja dengan pendapatan yang layak dan menciptakan image positif/meningkatkan citra "kepedulian terhadap lingkungan. Berikut ini beberapa contoh model komposter skala rumah tangga: dapat memenuhi kebutuhan pupuk organik sendiri. Dari segi ekologi: mngurangi pencemaran akibat sampah dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat; mendukung upaya pelestarian sumber daya alam; dan mengurangi pemakaian pestisida & herbisida. Sedangkan dari segi sosial: menciptakan kesempatan kerja dengan pendapatan yang layak dan menciptakan image positif/meningkatkan citra "kepedulian terhadap lingkungan. Berikut ini beberapa contoh model komposter skala rumah tangga: Kapasitas Kapasitas komposter = 80 ltr.
Untuk pengisian penuh komposter dibutuhkan waktu pengumpulan sampah organik selama 7 – 8 hari. Waktu yang dibutuhkan untuk proses pembuatan kompos adalah 7 hari. Dengan demikian, agar kegiatan pengomposan di rumah tangga dapat dilakukan secara berkesinambungan, maka diperlukan tong penampungan sampah organik sementara dengan kapasitas 80 ltr atau dibutuhkan 2 unit komposter/keluarga. Kapasitas produksi setiap periode proses pengomposan adalah sekitar 60 kg kompos.
Dalam proses pembuatan kompos ada yang mempergunakan bahan aktivator untuk mempercepat proses composting. Bakteri ini merupakan bakteri bebas yang dapat mensintesis senyawa nitrogen, gula, dan substansi bioaktif lainnya. Hasil metabolir yang diproduksi dapat diserap secara langsung oleh tanaman dan tersedia sebagai substrat untuk perkembangbiakan mikroorganisme yang menguntungkan.
Secara global terdapat 5 golongan yang pokok yaitu:
a.       Bakteri fotosintetik
Bakteri ini merupakan bakteri bebas yang dapat mensintesis senyawa nitrogen, gula, dan substansi bioaktif lainnya. Hasil metabolir yang diproduksi dapat diserap secara langsung oleh tanaman dan tersedia sebagai substrat untuk perkembangbiakan mikroorganisme yang menguntungkan
b.      Lactobacillus sp.
Bakteri yang memproduksi asam laktat sebagai hasil penguaraian gula dan karbohidrat lain yang bekerjasama dengan bakteri fotosintesis dan ragi. Asam laktat ini merupakan bahan sterilisasi yang kuat yang dapat menekan mikroorganisme berbahaya dan dapat menguraikan bahan organik dengan cepat.
c.       Streptomycetes sp.
Streptomycetes sp. mengeluarkan enzim streptomisin yang bersifat racun terhadap hama dan penyakit yang merugikan.
d.      Ragi (yeast)
Ragi memproduksi substansi yang berguna bagi tanaman dengan cara fermentasi. Substansi bioaktif yang dihasilkan oleh ragi berguna untuk pertumbuhan sel dan pembelahan akar. Ragi ini juga berperan dalam perkembangan atau pembelahan mikroorganisme menguntungkan lain seperti Actinomycetes dan bacteri asam laktat.
e.       Actinomycetes
Actinomycetes merupakan organisme peralihan antara bakteri dan jamur yang mengambil asam amino dan zat serupa yang diproduksi bakteri fotosintesis dan merubahnya menjadi antibiotik untuk mengendalikan patogen, menekan jamur dan bakteri berbahaya dengan cara menghancurkan khitin yaitu zat esential untuk pertumbuhannya. Actinomycetes juga dapat menciptakan kondisi yang baik bagi perkembangan mikroorganisme lain.

J.                  BAHAN UTAMA DARI JERAMI

1.      TEKNOLOGI PEMBUATAN KOMPOS JERAMI (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat)

Akibat penghapusan subsidi pupuk buatan oleh pemerintah menyebabkan harga di pasaran bertambah menjadi hampir tiga kali lipat lebih tinggi dari harga semula. Hal ini menyebabkan penggunaan pupuk buatan secara nasional mengalami penurunan, khususnya bagi petani yang kurang mampu sehingga akan berdampak negative terhadap peningkatan produksi. Beranjak dari permasalah tersebut, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat telah menemukan dan mengembangkan teknologi “Pembuatan kompos jerami sebagai pupuk alternatif menggunakan Trichoderma harzianum”.
a)      Cara Pembuatan
Bahan :
·         Jerami segar 1 m3 (100 kg)
·         Urea 2 kg
·         SP36 3 kg
·         Kapur 1 kg
·         Pupuk kandang 25 kg
·         Starter Trichoderma 3 kg
·         Plastik hitam 5 m

b)      Langkah Pembuatan
a)      Terlebih dahulu jerami segar direndam selama satu malam (agar jerami tetap lembab). Dalam proses pengomposan, air sangat diperlukan. Kekurangan air menyebabkan timbulnya banyak cendawan sehingga proses pengomposan tidak sempurna. Awal pengomposan diperlukan air cukup banyak untuk mengimbangi penguapan dan mengaktifkan jasad renik.
b)      Bahan aktifator (Urea, SP36, kapur, pupuk kandang, starter Trichoderma harzianum) diaduk merata dan dibagi atas 4 bagian.
c)      Jerami ditumpuk setinggi 1x1x1 m lalu dibagi atas 4 bagian, masing‐masing setinggi + 25 cm.
d)     Di atas tumpukan jerami, ditabur bahan aktifator secara merata sebanyak ¼ bagian, dan diperciki air untuk emnjaga kelembabannya. Gabung tumpukan jerami menjadi 1 tumpukan sehingga volume tumpukan 1x1x1 m.
e)      Tutup tumpukan dengan plastik hitam anti air agar terlindung dari hujan dan panas matahari.
f)       Lakukan pembalikan tumpukan jerami setiap 1 minggu dengan cara memindahkan tumpukan paling atas ke paling bawah dan seterusnya. Perlu dijaga, kelembaban tumpukan harus stabil (kelembaban 60‐80%) selama proses pengomposan dengan cara menyiram dan memerciki air.
g)      Panen kompos jerami dapat dilakukan bila jerami telah matang dengan kriteria: suhu dingin, struktur lunak/hancur, warna coklat gelap sampai hiatm, tidak berbau, hasilnya ½ sampai 1/3 bagian dari jumlah awal.

2.      Teknik Pembuatan Kompos

Agar kompos yang jadi berkualitas baik, kita perlu memperhatikan jumlah dan dosis tepat masing‐masing komponen penyusun komposisi. Bahan dan alat yang harus disediakan dalam pembuatan kompos sebanyak 1m3 adalah:
1.      Bahan:
Jerami, dedaunan, rerumputan, sisa tanaman, abu, sampah dapur atau sampah kota yang telah dibersihkan dari bahan‐bahan anorganik seperti plastik, kaleng, dan batu.

2.      Tempat:
Sediakan tempat yang teduh dan beratap juga berlantai kering dan keras
3.      Cara Pembuatan:
a)      Pilih lokasi di permukaan tanah (bukan di dalam lubang di tanah), misalnya di tepi pematang sawah dan kebun.
b)      Susun media kompos (yakni hijauan atau jerami) setebal 25 cm sebagai lapisan pertama. Taburkan 1/4 bagian campuran bahan baku ke atas tumpukan jerami tersebut. Kemudian siram tumpukan jerami dengan air secukupnya.
c)      Untuk lapisan kedua, ketiga, dan keempat, susun lagi jerami setebal 25 cm kemudian taburkan lagi bahan baku sebanyak 1/4 bagian ke atas tumpukan jerami dan siramkan air ke tumpukan tersebut. Lakukan sehingga terbentuk 4 lapisan kompos.
d)     Lalu tutup dengan plastik dan beri penyangga dari bambu di sekelilingnya.
e)      Aduk setiap 7 hari sekali. Dalam tiga minggu atau setelah 3 kali pengadukan biasanya kompos sudah masak. Kompos yang masak ditandai oleh warnanya yang coklat kehitam‐hitaman, atau hitam bila terlalu panas.
f)       Kandungan unsur hara yang ada dalam kompos sangat tergantung pada komposisi bahan asalnya, yakni Nitrogen (N) 0,19%‐ 0,5%, Fosfat (P2O5) 0,08% ‐ 0,27%, dan Kalium (K2O) 0,45% ‐ 1,20%

3.      Cara praktis pembuatan bokashi jerami ‐ pupuk kandang

Pembuatan kompos sebaiknya dikerjakan:
·         Dalam bangunan yang memiliki lantai rata, keras dan bebas dari genangan air, serta adanya atap yang melindungi dari terik matahari dan hujan,
·         dekat dengan sumber bahan organik: jerami, pupuk kandang, sampah, sekam, dedak dll.
·         dekat dengan sumber air, dan
·         transportasi mudah. Alat yang diperlukan: Garuk atau cangkul, Pemotong rumput atau sabit, Gembor, Ember, Cetakan kayu dan Karung atau plastik.
1.      Bahan
1. Jerami dicacah halus 3‐ 5 cm : 500 kg
2. Pupuk kandang : 500 kg
3. MIG DECOMPOSER : 1000 mL
4. Gula pasir : 250 g
2.      Cara pembuatan:
a.       Larutan MIG DECOMPOSER. Masukkan 20 mL MIG DECOMPOSER + 10 g gula pasir + air bersih 1.000 mL ke dalam jerigen tertutup rapat, digojok merata dan difermentasikan selama 24 jam.
b.      Jerami + pupuk kandang dicampur merata di atas lantai.
c.       Tambahkan larutan MIG DECOMPOSER ke kemudian diaduk merata sehingga kadar lengas dalam adukan tersebut sekitar 30%. Ambil segenggam bakal kompos tersebut, jika diperas air mulai menetes
d.      Buat gundukan setinggi 60 cm, tutupi dengan karung goni.
e.       Setiap 2 hari gundukan tersebut diperiksa, jika temperatur > 50oC gundukan harus dibongkar dan dianginkan. Setelah dingin buat gundukan kembali, tutup dengan karung goni. Jika terlalu kering tambahkan larutan MIG DECOMPOSER.
f.       Setelah 3 minggu gundukan dibongkar. Kompos diayak dengan saringan kasa 2 cm. Bahan yang tidak lolos saring dikomposkan kembali.

4.      Penggunaan bokashi

Takaran penggunaan secara umum 2 kg/m2. Begitu sampai di lahan kompos harus segera dicampur merata dengan tanah. Kompos yang tidak segera digunakan dapat disimpan. Kompos terlebih dahulu dikering anginkan, kemudian dimasukkan dalam karung plastik yang kedap air dan berwarna gelap. Karung tersebut disimpan ditempat yang kering, terlindung dari hujan dan cahaya matahari langsung.

K.                PEMBUATAN KOMPOS DENGAN MENGGUNAKAN BIOAKTIVATOR (MIG DECOMPOSER)

MiG Decomposer merupakan kultur campuran dalam medium cair berwarna coklat yang terdiri dari beberapa mikroorganisme yang menguntungkan bagi kesuburan tanah. Adapun jenis mikroorganisme yang berada dalamnya antara lain : Azotobacter sp., Azospirillum sp., Lactobacillus sp., Mikroba pelarut Phosphate dan Mikroba Selulolitik serta Pseudomonas sp.. Selain memfermentasi bahan organik dalam tanah atau sampah, peran MiG Decomposer juga merangsang perkembangan mikroorganisme tanah setempat (indigenous) yang menguntungkan bagi kesuburan tanah. Fungsi mikroorganisme tersebut antara lain : penambat nitrogen, pelarut fosfat dan mikroba pendegradasi selulosa. Mikroorganisme tersebut bersifat antagonis terhadap bakteri patogen yang menyebabkan penyakit pada tanaman dari dalam tanah.
Fungsi MiG Decomposer dalam proses pengomposan, akan mempercepat proses dekomposisi sampah dari bahan organik . Setiap bahan organik akan terfermentasi oleh MiG Decomposer pada suhu 40 - 50oC. Pada proses fermentasi akan dilepaskan hasil berupa gula, alkohol, vitamin, asam laktat, asam amino , dan senyawa organik lainnya serta melarutkan unsur hara yang bersifat stabil dan tidak mudah bereaksi sehingga mudah diserap oleh tanaman.
Proses pengomposan atau membuat kompos adalah proses biologis karena selama proses tersebut berlangsung, sejumlah jasad hidup yang disebut mikroba, seperti bakteri dan jamur, berperan aktif. Dijelaskan lebih lanjut agar peranan mikroba di dalam pengolahan bahan baku menjadi kompos berjalan secara baik, persyaratan-persyaratan berikut harus dipenuhi :
1.          Kadar air bahan baku : daun-daun yang masih segar atau tidak kering, kadar airnya memenuhi syarat sebagai bahan baku. Dengan begitu, daun yang sudah kering, yang kadar airnya juga akan berkurang, tidak memenuhi syarat. Hal tersebut harus diperhatikan karena banyak pengaruhnya terhadap kegiatan mikroba dalam mengolah bahan baku menjadi kompos. Seandainya sudah kering, bahan baku tersebut harus diberi air secukupnya agar menjadi lembab.
2.          Bandingan sumber C (Karbon) dengan N (zat lemas) bahan : bandingan ini umumnya disebut rasio/bandingan C/N. dengan bandingan tersebut proses pengomposan berjalan baik dengan menghasilkan kompos bernilai baik pula, paling tinggi 30, yang artinya kandungan sumber C berbanding dengan kandungan sumber = 30 : 1. Sebagai contoh, kalau menggunakan jerami sebagai bahan baku kompos, nilai rasio C/N berkisar 15– 25, terlalu rendah, karena itu, bahan baku tersebut harus dicampur dengan benar agar nilai rasio C/N‐nya berkisar 30. Misalnya, lima bagian sampah yang terdiri atas daun ‐daunan dari pekarangan dicampur dengan dua bagian kotoran kandang, akan mencapai nilai rasio C/N mendekati 30, atau lima bagian sampah tersebut dicampur dengan lumpur selokan sebanyak tiga bagian, juga akan mencapai rasio C/N sekitar 30. Sementara itu, untuk jerami, lima bagian jerami harus ditambah dengan tiga bagian kotoran kandang, atau kalau tidak ada dengan empat bagian Lumpur sedotan sehingga nilai rasio C/N‐nya akan mendekati 30.

1.      Tempat Pengomposan

Tempat pengomposan tergantung kondisi serta luas lahan (pekarangan rumah) yang dapat disiapkan untuk pembuatan kompos. Dengan demikian, bentuk tempat pengomposan dapat bermacam-macam, antara lain :
a.       Berbentuk lubang dengan ukuran 100 x 75 x 50 cm atau 2,5 x 1 x 1 m (panjang, lebar, dan tinggi), bisa lebih, bisa juga kurang, tergantung kepada lahan yang dapat digunakan sebagai tempat pembuatan kompos, serta bahan baku yang akan dibuat atau diproses. Bentuk lubang mudah dibuat . Selain itu, setiap bahan baku yang akan dimasukkan hanya tinggal dijatuhkan ke dalamnya. Kekurangannya kalau musim hujan air akan mengenang pada lubang, sehingga proses pengomposan akan terhambat.
b.      Menggunakan bak, baik dengan dinding yang terbuat dari batu bata (tembok), dari bambu, dari kayu ataupun dari bahan‐bahan lainnya. Keunggulan tempat ini ialah tidak tergenang air disaat musim penghujan. Kekurangannya memerlukan biaya yang cukup mahal untuk membuat dinding.
c.       Pada permukaan tanah, artinya timbunan bahan baku langsung ditempatkan pada permukaan tanah tanpa lubang atau dinding. Dengan cara ini proses pengadukan mudah dilakukan, selain itu tidak tergenang air dikala musim hujan.

2.      Cara Pembuatan Kompos

Buat larutan MiG Decomposer dengan mencampur 1 liter MiG Decomposer dengan air (jangan air PAM) sebanyak 10 liter, diamkan sebentar. Larutan tadi cukup untuk mengkomposkan 1 ton sampah organik seperti limbah pertanian jerami, kotoran kandang.
Agar proses pengomposan lebih cepat, sebaiknya bahan organik (berserat) dihancurkan terlebih dahulu dengan cara mekanis (mesin penghancur/dicacah) menjadi ukuran yang lebih kecil, kemudian letakan sampah organik tersebut pada permukaan tanah secara bertahap (tiap tahap ketebalan 20 cm) kemudian semprotkan/siramkan dengan larutan Agrobost pada tiap tahap, sampai mencapai ketinggian 1 meter maksimum 1,5 meter. Selanjutnya tutup dengan terpal kedap cahaya (agar mikroba tidak terganggu oleh cahaya matahari).
Lakukan pengecekan setiap 2 minggu, Amati! pengomposan berjalan baik bila terjadi penyusutan volume bahan organik, bila dipegang terasa panas, kemudian diaduk‐aduk sampai rata (setiap 2 minggu), tutup lagi dengan terpal. Proses pengomposan biasanya selesai dalam waktu 6 minggu.
Proses pembuatan kompos telah selesai bila sudah berwarna coklat kehitaman, tidak berbau, bahan lunak, temperatur kompos kembali ke suhu kamar, maka kompos siap digunakan untuk pupuk segala tanaman, bermanfaat untuk memacu pertumbuhan, menekan bakteri pathogen yang berasal dari tanah, terdapat bakteri pengurai phosphat sehingga Phosphat yang terdapat dalam tanah diubah menjadi partikel yg lebih mudah diserap oleh tanaman.










BAB III

 KESIMPULAN


1.      Pengolahan sampah organic yang tepat adalah mengunakan metode pengomposan, baik menggunkan cara sederhana yaitu menggunkan ember dan drum, maupun secara modern yaitu menggunkan bioaktivator (mig decomposer).
2.      Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat,lembab, dan aerobik atau anaerobic. pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi.
3.      Cara pengolahan kompos secara umum terbagi menjadi 3 sistem pembuatan kompos yaitu Sistim Windrow Sistim, Aerated Static Pile dan Sistim In Vessel.
4.      Kompos yang baik memiliki standar yaitu temperature, kelembapan, aroma, dan kandungan pH yang memenuhi syarat staqndarisasi pembuatan kompos.
5.      Ciri-ciri kompos yang baik, dapat dilihat secara kasat mata yaitu dari warna yang coklat kehitaman, aroma yang khas seperti tanah atau humus dan apabila di kepal akan menggumpal serta jika di tekan akan mudah hancur.
6.      Penyimpanan kompos yang telah jadi harus memperhatikan kelembapan janagn sampai banyak berkurang, tempat penyimpanan yang terhindar dari sinar matahari langsung dan air hujan, dan kemasan yang digunakan adalah kedap udara, tidak mudah rusak dan lebih baik tidak tembus cahaya.
7.      Kekurangan dari kompos adalah kandungan unsur hara yang relative kecil, dan kelebihannya yang utama adalah dapat memperbaiki dan menjaga struktur tanah serta aman digunakan.
8.      Teknik dalam pembuatan kompos dapat dalam skala rumah tangga yaitu menggunakan tong dengan kapasitas maksimal 80 liter.
9.      Pengomosan dengan bahan utama jerami di dukung oleh bahan bahan seperti Urea, SP36, Kapur, Pupuk kandang dan Starter Trichoderma.
10.  Pembuatan kompos dengan mengunakan sistem bio activator (mig decomposer) merupakan kultur campuran dalam medium cair berwarna coklat yang terdiri dari beberapa mikroorganisme yang menguntungkan bagi kesuburan tanah. 






DAFTAR PUSTAKA

·         Anonim. 2011.  Pengelolaan sampah. http://www4.justnet.ne.ip/offifour/smoky.htm. Di akses tanggal 9 desember 2011.
·         Anonim. 2011.  Pengertian Dan Proses Daur Ulang. http://alamendah.wordpress.com /2011/01/22/pengertian-dan-proses-daur-ulang./. Di akses tanggal 9 desember 2011.
·         Anonim. 2008.pengomposan. http://plhspensa.blogspot.com /2007/09/kompos. Di akses tanggal 9 desember 2011.
·         Anonim. 2009. Metode pengomposan .http://kiathidupsehat.com/tag/ Metode-pengomposan /.  Di akses tanggal 9 desember 2011.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar