Senin, 15 Oktober 2012

jamban



JAMBAN
A.   Pengertian Feases
Yang dimaksud kotoran manusia (feases) adalah semua benda atau zat yang tidak dipakai lagi oleh tubuh yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh. Zat-zat yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh ini berbentuk tinja (faeces), air seni (urine), dan CO2 sebagai hasil dari proses pernapasan. Pembuangan kotoran manusia didalam tulisan ini dimaksudkan hanya tempat pembuangan tinja dan urin, yang pada umumnya disebut latrine (jamban atau kakus). Karena kotoran manusia (faeces) adalah sumber penyebaran penyakit yang multikompleks. Penyebaran penyakit yang bersumber pada faeces dapat melalui berbagai macam jalan atau cara.
B.   Pengertian Jamban
Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoran manusia yang terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa atau tanpa leher angsa (cemplung) yang dilengkapi dengan unit penampungan kotoran dan air untuk membersihkannya.Buang air besar (BAB) sembarangan bukan lagi zamannya. Dampak BAB sembarangan sangat buruk bagi kesehatan dan keindahan. Selain jorok, berbagai jenis penyakit ditularkan.
Sebagai gantinya, BAB harus pada tempatnya yakni di jamban. Hanya saja harus diperhatikan pembangunan jamban tersebut agar tetap sehat dan tidak menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan.
C.   Syarat-Syarat  Jamban Sehat
Kementerian Kesehatan telah menetapkan syarat dalam membuat jamban sehat. Ada tujuh kriteria yang harus diperhatikan. Berikut syarat-syarat tersebut:
1.    Tidak mencemari air
1.    Saat menggali tanah untuk lubang kotoran, usahakan agar dasar lubang kotoran tidak mencapai permukaan air tanah maksimum. Jika keadaan terpaksa, dinding dan dasar lubang kotoran harus dipadatkan dengan tanah liat atau diplester.
2.    Jarang lubang kotoran ke sumur sekurang-kurangnya 10 meter
3.    Letak lubang kotoran lebih rendah daripada letak sumur agar air kotor dari lubang kotoran tidak merembes dan mencemari sumur.
4.    Tidak membuang air kotor dan buangan air besar ke dalam selokan, empang, danau, sungai, dan laut
2.    Tidak mencemari tanah permukaan
1.    Tidak buang besar di sembarang tempat, seperti kebun, pekarangan, dekat sungai, dekat mata air, atau pinggir jalan.
2.    Jamban yang sudah penuh agar segera disedot untuk dikuras kotorannya, atau dikuras, kemudian kotoran ditimbun di lubang galian.
3.    Bebas dari serangga
1.    Jika menggunakan bak air atau penampungan air, sebaiknya dikuras setiap minggu. Hal ini penting untuk mencegah bersarangnya nyamuk demam berdarah
2.    Ruangan dalam jamban harus terang. Bangunan yang gelap dapat menjadi sarang nyamuk.
3.    Lantai jamban diplester rapat agar tidak terdapat celah-celah yang bisa menjadi sarang kecoa atau serangga lainnya
4.    Lantai jamban harus selalu bersih dan kering
5.    Lubang jamban, khususnya jamban cemplung, harus tertutup
4.    Tidak menimbulkan bau dan nyaman digunakan
1.    Jika menggunakan jamban cemplung, lubang jamban harus ditutup setiap selesai digunakan
2.    Jika menggunakan jamban leher angsa, permukaan leher angsa harus tertutup rapat oleh air
3.    Lubang buangan kotoran sebaiknya dilengkapi dengan pipa ventilasi untuk membuang bau dari dalam lubang kotoran
4.    Lantan jamban harus kedap air dan permukaan bowl licin. Pembersihan harus dilakukan secara periodic
5.    Aman digunakan oleh pemakainya
1.    Pada tanah yang mudah longsor, perlu ada penguat pada dinding lubang kotoran dengan pasangan batau atau selongsong anyaman bambu atau bahan penguat lai yang terdapat di daerah setempat
6.    Mudah dibersihkan dan tak menimbulkan gangguan bagi pemakainya
1.    Lantai jamban rata dan miring kearah saluran lubang kotoran
2.    Jangan membuang plastic, puntung rokok, atau benda lain ke saluran kotoran karena dapat menyumbat saluran
3.    Jangan mengalirkan air cucian ke saluran atau lubang kotoran karena jamban akan cepat penuh
4.    Hindarkan cara penyambungan aliran dengan sudut mati. Gunakan pipa berdiameter minimal 4 inci. Letakkan pipa dengan kemiringan minimal 2:100
7.    Tidak menimbulkan pandangan yang kurang sopan
1.    Jamban harus berdinding dan berpintu
2.    Dianjurkan agar bangunan jamban beratap sehingga pemakainya terhindar dari kehujanan dan kepanasan.
Penentuan jarak tergantung pada :
  1. Keadaan daerah datar atau lereng;
  2. Keadaan permukaan air tanah dangkal atau dalam;
  3. Sifat, macam dan susunan tanah berpori atau padat, pasir, tanah liat atau kapur.
    Faktor tersebut di atas merupakan faktor yang mempengaruhi daya peresapan tanah. Di Indonesia pada umumnya jarak yang berlaku antara sumber air dan lokasi jamban berkisar antara 8 s/d 15 meter atau rata-rata 10 meter.
Dalam penentuan letak jamban ada tiga hal yang perlu diperhatikan :
  1. Bila daerahnya berlereng, kakus atau jamban harus dibuat di sebelah bawah dari letak sumber air. Andaikata tidak mungkin dan terpaksa di atasnya, maka jarak tidak boleh kurang dari 15 meter dan letak harus agak ke kanan atau kekiri dari letak sumur.
  2. Bila daerahnya datar, kakus sedapat mungkin harus di luar lokasi yang sering digenangi banjir. Andaikata tidak mungkin, maka hendaknya lantai jamban (diatas lobang) dibuat lebih tinggidari permukaan air yang tertinggi pada waktu banjir.
  3. Mudah dan tidaknya memperoleh air.



Syarat-syarat yang perlu diperhatikan dalam membuat rumah jamban:
a.    Ruangan cukup leluasa untuk bergerak.
b.    cahaya dalam ruangan cukup terang.
c.    lubang pertukaran hawa cukup.
d.     lantai tidak licin.
Cara memelihara jamban sehat :
a)     Lantai jamban selalu bersih dan tidak ada genangan air
b)     Bersihkan jamban secara teratur sehingga ruang jamban dalam keadaan bersih
c)     Di dalam jamban tidak ada kotoran yang terlihat
d)     Tidak ada serangga (kecoa, lalat) dan tikur yang berkeliaran
e)     Tersedia alat pembersih (sabun, sikat dan air bersih)
f)      Bila ada kerusakan segera diperbaiki.
g)     Pakailah karbol pada saat membersihkan lantai agar bebas penyakit.
h)    Hindarkan menyiram air sabun ke dalam bak pembuangan/atau ke dalam kloset agar bakteri pembusuk tetap berperan aktif.
i)      Jangan menggunakan alat pembersih yang keras agar kloset tidak cepat rusak.
j)       Jangan membuang kotoran yang tidak mudah larut ke dalam air misal : kertas, kain bekas, dll.
D.   Macam-macam jamban
Sistem yang dipilih adalah sistem yang mempunyai kriteria tepat, baik secara fisik sosial atau perekonomian; selain itu sistem harus mampu menciptakan tingkat higienis dan kenyaman masyarakat serta menjaga keberlangsungan lingkungan dimasa depan. 
Secara umum pengelolaan air buangan yaitu sistem:
1.    Sistem off-site ( terpusat )
Adalah sistem dimana air limbah dari seluruh daerah pelayanan dikumpulkan dalam riol pengumpul, kemudian dialirkan ke dalam riol kota menuju tempat pengolahan dan baru dibuang ke badan air penerima. Sistem sanitasi off-site mempunyai beberapa teknologi yang sering digunakan, antara lain:


1.    Conventional Sewerage,
2.    Shallow Sewers
3.    Small bore sewer dengan pengolahan

2.     Sistem on-site ( setempat)
Adalah sistem dimana air limbah tidak dikumpulkan dalam satu tempat, tetapi masing-masing yang mengeluarkan air buangan membuat sendiri sistem pengelolaannya, kemudian di buang ke badan air penerima. Sistem ini biasa sering dipakai, antara lain:
a.    Cubluk,
b.    Aquaprivy dan
c.    Septik Tank
Gabungan sistem ini membutuhkan tempat penyaluran, pembuangan dan pengolahan
 Beberapa keuntungan dan kerugian sistem sanitasi setempat (On-Site) adalah:
Keuntungan:
a.    Biaya konstruksi relatif rendah
b.    Teknologi yang digunakan cukup sederhana
c.    Operasi dan pemeliharaan umumnya merupakan tanggung jawab pribadi
d.    Dapat menggunakan bahan / material setempat
e.    Tidak berbau dan cukup higienis jika pemeliharaannya baik
f.     Hasil dekomposisi bisa dimanfaatkan sebagai pupuk.
Kerugian:
a.    Tidak cocok diterapkan disemua daerah (tidak cocok untuk daerah dengan kepadatannya tinggi, muka air tanah tinggi dan permeabilitas tanah rendah)
b.    Memerlukan lahan yang luas
c.    Sistem ini tidak diperuntukkan bagi limbah dapur, mandi dan cuci karena volumenya kecil, sehingga limbah cair dari dapur dan cuci akan tetap mencemari saluran drainase dan badan-badan air yang lain.
d.    Bila pemeliharaannya tidak dilakukan dengan baik, akan dapat mencemari air tanah dan sumur dangkal.
e.    Pelayanan terbatas
Sedangkan keuntungan dan kerugian bila menggunakan sistem sanitasi terpusat (Off-Site) adalah :
 Keuntungan:
 Memberikan pelayanan lebih aman, nyaman dan menyeluruh.
a.    Menampung semua air buangan rumah tangga sehingga pencemaran terhadap saluran drainase dan badan air lainnya serta air tanah dapat dihindari.
b.    Cocok diterapkan di daerah perkotaan dengan kepadatan penduduk menengah sampai tinggi.
c.    Tahan lama dikarenakan sistem ini dibuat dengan periode perencanaan tertentu.
d.    Tidak memerlukan lahan (permukaan) yang luas, sebab jaringan pipa ditanam di dalam tanah.
 Kerugian:
 Biaya investasi jaringan sangat tinggi
a.    Memerlukan teknologi yang memadai untuk membangun dan memelihara sistem
b.    Instalasi lebih rumit sehingga memerlukan perencanaan yang tepat.
c.    Keuntungan baru bisa dicapai sepenuhnya setelah sistem dapat dimanfaatkan / digunakan oleh seluruh penduduk di daerah pelayanan.
d.    Sistem jaringan pipa yang luas memerlukan perencanaan dan pelaksanaan jangka panjang.
 Masing-masing teknologi yang digunakan dalam sistem tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1.    Convensional Sewerage
Dalam sistem ini air buangan (dalam hal ini air dan lumpur tinja) akan masuk ke dalam saluran. Jaringan pipa air buangan tidak selamanya sesuai dengan kondisi perkotaan di Indonesia. Dan untuk melaksanakan sewerage di daerah perkotaan yang kepadatannya tinggi tidaklah mudah.
Kompleks perumahan baru dan pusat perdagangan atau industri adalah tempat yang paling sesuai untuk sistem sewerage ini. Conventional Sewerage sebaiknya dipilih antara lain:


a.    Bila mayoritas rumah tangga sudah memiliki sambungan air bersih.
b.    Bila teknologi sanitasi setempat tidak layak.
c.    Di daerah pemukiman baru dimana mereka mampu membiayai sewerage dan sebaiknya dilengkapi dengan IPAL.
d.    Untuk daerah yang kemiringannya 1% perlu diselidiki adanya kemungkinan untuk mengembangkan saluran drainase yang ada dan menggunakannya sebagai sewerage gabungan.

2.    Small Bore Sewer
            Small Bore Sewer (SBS) merupakan sistem yang sesuai untuk memperbaiki sistem sanitasi pada daerah yang mayoritas menggunakan tanki septic. SBS akan menampung semua air buangan kecuali lumpur (tinja) dari tangki septik. Walaupun air buangan dari SBS sebagian sudah diolah di tangki septik, tetapi tetap membutuhkan pengolahan lebih lanjut untuk memperbaiki kualitas bakteriologi.
            Sistem ini di desain untuk mengalirkan bagian air buangan rumah tangga. Pasir, lemak dan benda padat lain yang dapat menggangu saluran dapat dipisahkan dari aliran pada tangki inteseptor yang dipasang diujung setiap sambungan yang menuju saluran. Padatan yang terakumulasi pada tangki interseptor diangkat secara periodik.
 SBS pada umumnya cocok untuk daerah yang datar dan mempunyai taraf muka air tinggi.
 Sistem Small Bore Sewer secara umum memiliki komponen berupa:
1.    Sambungan rumah, dibuat pada inlet tangki interseptor. Semua buangan kecuali sampah memasuki sistem melalui bagian ini.
2.    Tangki interseptor (Interceptor Tank), didesain untuk menampung aliran selama 24 jam untuk memisahkan endapan dari cairannya. Volumenya dapat menyimpan padatan yang secara periodik akan diambil.
3.    Saluran berupa pipa plastik berlubang kecil (diameter minimum 50-100 mm) dengan kedalaman yang cukup untuk mengumpulkan air buangan dari sambungan sistem gravitasi dan dibuat sesuai dengan bentang alam.
4.    Pembuang dan manhole, sebagai jalan masuk dan pemeliharaan saluran serta untuk menggelontor selama pembersihan saluran.
5.    Vent, untuk memelihara kondisi aliran yang bebas.
6.    Sistem pemompaan (jika diperlukan) untuk mengangkat effluent dari tangki interseptor ke saluran untuk mengatasi perbedaan elevasi diperlukan bagi sistem saluran dengan area yang luas.
7.    Lahan pengolahan buangan untuk mengalirkan cairan dan jaringan pengumpul dan untuk menampung buangan padat hasil olahan dari tangki interseptor.
8.    Aliran yang masuk adalah aliran rata-rata. Aliran maksimum dianggap sama dengan aliran rata-ratanya sedangkan kecepatan minimum tidak memiliki batas.
            Aliran air tanah yang masuk ke dalam saluran (infiltrasi) terjadi bila letak sewer di bawah muka air tanah, inipun biasanya kecil sekali terhadap sewer yang baru, sehingga sering diabaikan dalam perhitungan aliran. Jadi perhitungan aliran infiltrasi ditentukan berdasarkan keadaan sewer dan muka air tanah. Ukuran pipa minimum untuk sambungan rumah dengan small bore sewer sistem berdiameter 50 mm, sedang pipa minimum bagi sewer 100 mm.

3.    Shallow Sewer
            Shallow sewer adalah sewerage kecil yang dipasang dangkal dengan kemiringan yang lebih landai dibandingkan sewerage konvensional. Shallow sewer sangat tergantung pada pembilasan air buangan untuk mengangkut air buangan padat jika dibandingkan dengan cara konvensaional yang mengandalkan kecepatan untuk membersihkan sendiri (self cleansing velocity).
            Shallow sewer lebih mudah dibandingkan sewerage konvensional dan lebih cocok sebagai sewerage sekunder di daerah kampong dengan kepadatan penduduk tinggi dan jalan lingkungannya kecil dimana tidak dilewati kendaraan berat dan sebagian besar penduduk sudah memiliki sambungan air bersih dan jamban pribadi tanpa pembuangan setempat yang memadai. Selain itu sistem ini cocok ditempatkan pada daerah dengan kemiringan 1%.




1)    Tanki Septik dan Sumur Resapan
            Penggunaan tangki septik paling banyak digunakan untuk pengolahan air buangan rumah tangga dan sistem ini cocok untuk sistem on-site sanitation walaupun kualitas bakteriologinya masih jelek.
Tangki septik yang sudah umum di Indonesia adalah toilet tuang siram atau istilah lain kakus leher angsa. Sistem ini mempunyai unit air perapat (water seal) yang dipasang di bawah pelat jongkok atau tumpuan tempat duduk sehingga dapat mencegah gangguan lalat dan masuknya bau ke toilet.
Air buangan dapur dan kamar mandi sebaiknya tidak dimasukkan ke dalam tangki septik kecuali bila tanki tersebut direncanakan mampu menampung debit air buangan yang besar. Tangki septik paling banyak digunakan penduduk sebagai penampung sementara air buangan toilet karena biayanya yang relatif murah. Tangki septik harus diletakkan pada lokasi yang tepat agar tidak mencemari sumber air tanah.
Jamban ini sama dengan jamban sistem resapan. Perbedaanya terletak pada jumlah septik tank dan cara pembuangannya. Jumlah septik tank ganda mempunyai dua atau lebih lubang penampung kotoran. Cara pemakaian dilakukan bergilir setelah salah satu bak penampung terisi penuh. Bak penampung yang telah penuh ditutup dan didiamkan beberapa lama supaya kotoran dapat dijadikan kompos atau pupuk.
Saluran pembuangan dapat dipindahkan dengan menutup/membuka lubang saluran yang dikehendaki pada bak pengontrol. Ukuran lubang dan bangunan jamban tergantung pada kebutuhan dan persediaan lahan. Kotoran yang telah berubah menjadi kompos dapat diambil dan dimanfaatkan sebagai pupuk. Bak penampung yang telah dikosongkan dapat dimanfaatkan kembali.

a)    Proses Kimiawi
            Akibat penghancuran tinja akan direduksi dan sebagian besar (60-70 %) zat-zat padat akan mengendap didalam tangki sebagai sludge. Zat-zat yang tidak dapat hancur bersama-sama dengan lemak dan busa akan mengapung dan membentuk lapisan yang menutup permukaan air dalam tanki tersebut. Lapisan ini disebut scum yang berfungsi mempertahankan suasana anaerob dari cairan dibawahnya, yang memungkinkan bakteri-bakteri anaerob dan fakultatif anaerob dapat tumbuh subur, yang akan berfungsi pada proses berikutnya.

b)    Proses Biologis
            Dalam proses ini terjadi dekomposisi melalui aktivitas bakteri anaerob dan fakultatif anaerob yang memakan zat-zat organik alam, sludge dan scum. Hasilnya, selain terbentuk gas dan zat cair lainnya, adalah juga mengurangi volume sludge sehingga memungkinkan septic tank tidak cepat penuh. Kemudian cairan enfluent sudah tidak mengandung bagian-bagian tinja dan mempunyai BOD yang relatif rendah. Cairan enfluent ini akhirnya dialirkan keluar melalui pipa dan masuk ke dalam tempat perembesan.
1.    Bahan
                        1.    Batako/batu bata
                        2.    Kayu/bambu
                        3.    Papan atau bahan dinding
                        4.    Pasir
                        5.    Bahan atap (seng, genteng)
                        6.    Semen
                        7.    Pipa plastik/ pralon besar dan kecil
                        8.    Batu kali dan kerikil
                        9.    Kawat
                     10.    Tali
                     11.    Kloset atau mangkokan leher angsa.
2.    PERALATAN
                        1.    Cangkul/alat penggali
                        2.    Alat pertukangan kayu dan batu





3.    PEMBUATAN
                        1.    Pilih satu model bak penampung pada Gambar 1.

Gambar 1. Model Bak Penampung
                        2.    Tentukan jarak dari sumber air menurut kondisi tanah seperti dalam Gambar 2

Gambar 2. Jarak Sumber Air dan Kakus
                        3.    Bangunlah konstruksi seperti Gambar 3.

Gambar 3. Konstruksi Kakus
                        4.    Isilah sekeliling bak dengan bahan porous (kerikil, ijuk, batu, dll) seperti Gambar 4.

Gambar 4. Pengisian Bahan Proses
                        5.    Buat penutup bak dan letakkan di atas bak seperti Gambar 5.

Gambar 5. Penutup bak
                        6.    Jamban siap dipakai, apabila sudah penuh arah pembuangan kotoran diubah melalui bak kontrol (Gambar 6)

Gambar 6. Jamban Siap Pakai
                        7.    Kotoran yang sudah menjadi kompos dimanfaatkan menjadi pupuk (Gambar 7)

Gambar 7. Pemanfaatan Kotoran
4.    PENGGUNAAN
                        1.    Tutup lubang pembuangan dibuka
                        2.    Jongkok/duduk diatas kloset untuk melaksanakan hajat besar
                        3.    Setelah selesai membuang kotoran diguyur dengan air secukupnya.
5.    PEMELIHARAAN
                        1.    Jangan menggunakan benda keras pada waktu membongkar pupuk (untuk menghindari dinding bak).
                        2.    Selalu diperbaiki apabila ada konstruksi yang rusak.
                        3.    Lubang-lubang kotoran perlu ditutup rapat guna menghindari serangga dan bau.

6.    KEUNTUNGAN
                        1.    Tak perlu membuat bak penampung berpindah-pindah
                        2.    Kotoran dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk kompos (setelah 2tahun) tanpa efek kesehatan.
                        3.    Tanah di sekitar bak penampung menjadi subur.
                        4.    Lebih rapi, aman bila dibandingkan kakus cemplung (gangguan, serangga,bau).
7.    KERUGIAN
                        1.    Kurang sesuai untuk daerah yang sumber airnya dangkal.
                        2.    Relatif lebih mahal biaya konstruksinya.

2)    Cubluk (Sumur Penampung)
            Cubluk adalah lubang/sumuran yang dibuat dengan menggali tanah dengan dinding yang merembes air. Jadi cubluk merupakan suatu lubang yang digunakan untuk menampung air limbah manusia dari jamban, berfungsi sebagai tempat pengendapan tinja dan juga media peresapan dari cairan yang masuk.Jika tersedia lahan yang cukup maka dapat dibangun duabuah lubang (cubluk kembar). Bila satu lubang penuh harus ditutup dan dibiarkan selama paling sedikit 1 (satu) tahun agarlumpur kering untuk selanjutnya dapat dipakaiuntuk kesuburan tanah (pupuk organik). Selain cubluk kembar, dapat pula berupa cubluk tunggal, yang sebenarnya sama penggunaannya hanya lubang satu, karena pertimbangan biaya dimana dengan membangun satu cubluk, pembangunan cubluk yang kedua dapat ditangguhkan sampai pada saat diperlukan. Namun demikian tempat untuk cubluk kedua tersebut harusdisediakan dan jangan digunakan untuk bangunan permanen. Cubluk relatif lebih murah, lebih mudah dibangun dan dipelihara sendiri apabila dibandingkan dengan tangki septic.
Jamban cubluk atau kakus cemplung (pit latrine) merupakan sarana sanitasi sederhana yang umum digunakan di negara-negara sedang berkembang (terutama di desa-desa). Bentuknya sangat sederhana dan terdiri dari 3 bagian, yaitu:
 1. Sumur pengumpul tinja (cubluk)
2. pelat jongkok berikut pondasinya,
3. Bangunan pelindung (konstruksi bagian atas)
 Beberapa jenis cubluk yang umum digunakan yaitu :
            Jamban cubluk konvensional
1. Jamban berlubang tradisional dengan bentuk yang sangat sederhana tanpa ventilasi. (biasanya berbau dan lalat serta nyamuk dapat berkembang biak dengan cepat.
 2. Jamban Cubluk Yang Diperbaiki dan Berventilasi (JCDV).
 Jamban cubluk dengan lubang tunggal, yang direncanakan untuk penggunaan paling sedikit 2 tahun. Umumnya sesuai digunakan pada daerah yang air tanah dalamnya dan ukuran lubang tidak terbatas.
 3. Jamban Cubluk Ganda Yang Diperbaiki dan Berventilasi (JCGDV)
 4. Jamban dengan struktur permanent mempunyai 2 lubang yang dapat digunakan bergantian. Jamban ini tepat digunakan didaerah perkotaan, dimana masyarakat sanggup membiayai dan tanpa harus memindahkannya setiap tahun.
 5. Jamban Cubluk Lubang Banyak Yang Diperbaiki dan Berventilasi.
Jamban lebih dari satu lubang yang lebih tepat digunakan di tempat-tempat umum.
Bau yang timbul dari dalam cubluk akan keluar akibat adanya aliran udara di ujung pipa ventilasi yang dapat terbuat dari PVC. Pemberian ventilasi ini juga memberikan peranan penting dalam mengurangi perkembangbiakan nyamuk dan lalat.
            Penggunaan JCDV dan JCGDV direncanakan untuk pemakaian tanpa air, artinya tinja tidak perlu digelontor masuk ke dalam cubluk. Untuk menjaga agar cubluk tetap kering dan mencegah pengotoran air tanah, maka pembangunan cubluk tidak dilakukan dibawah muka air tanah. Pemakaian cubluk dilakukan bergantian selama periode tertentu. Setiap cubluk harus didesain dengan masa periode paling sedikit 1 tahun sebelum menutup cubluknya dan menggunakan cubluk yang lain. Setelah cubluk pertama terisi penuh sesuai masa periode desain yang telah ditentukan, pemakaian cubluk kedua baru dimulai. Bila cubluk kedua hampir penuh, maka cubluk yang pertama dikosongkan dan siap untuk digunakan lagi. Dengan cara bergantian maka kedua cubluk dapat digunakan untuk jangka waktu yang tidak terbatas. Karena kotoran tersimpan lama dalam cubluk yang sedang ditutup (tidak digunakan), maka organisme yang dapat menimbulkan penyakit dalam kotoran akan mati (kotoran sudah menjadi humus) sehingga tidak ada bahaya penyebaran penyakit dari cubluk yang akan digali (digunakan kembali).
1.    Bahan
1)    Bambu
2)    Kayu
3)    Bahan atap atau genteng
4)    Bahan dinding/penutup
5)    Paku
2.    Peralatan
1.    Cangkul/alat penggali tanah
2.    Gergaji
3.    Golok
4.    Palu Alat pertukangan lain
3.    Pembuatan
1.    Gali tanah selebar 1-1,5 m, dalam 3 m atau lebih, tergantung kebutuhan.
2.    Paku bronjong (anyaman bambu) tau bahan penguat lainnya pada dinding lobang untuk menahan longsor.
3.    Tutup lubang dengan lantai yang berlubang dan bangunan penutup seperti pada Gambar.
4.    Lubang khusus pembuangan kotoran perlu ditutup dengan penutup yang dapat diangkat.
5.    Untuk menghindari bau yang tidak sedap, lubang septik tank perlu dilengkapi dengan saluran pembuangan gas.
6.    Bangunan jambang perlu diusahakan agar cukup ventilasi udara dan sinar masuk.
7.    Bangunan diusahakan dari bahan yang ringan agar mudah dipindahkan.
8.    Lokasi dianjurkan agak jauh dari tempat kediaman atau perumahan.
9.    Kontruksi secara lengkap lihat Gambar
4.    Penggunaan
Pemakai langsung membuang kotorannya dari atas lubang yang telah disediakan pada banguan penutup dengan tata cara :
·         Tutup lubang dibuka
·         Jongkok tepat diatas lubang
·         Diusahakan kotoran tidak menyentuh dinding lubang Setelah selesai lubang ditutup kembali
5.    Pemeliharaan
  1. Untuk mencegah penyebaran penyakit atau bau, lantai perlu dibersihkan secara teratur.
  2. Untuk menjaga agar bangunan tahan lama, bahan-bahan harus diresidu atau dikapur lebih dahulu sebelum dipasang.
6.    Keuntungan
Kontruksi bangunan cukup sederhana dan mudah dilaksanakan sendiri tanpa memerlukan persyaratan khusus
3)     Jamban Sistem Leher Angsa
Sistem ini sesuai untuk daerah yang mudah mendapatkan air bersih. Pada jamban leher angsa tinja tidak langsung jatuh ke lubang penampungan kotoran. Lubang pembuangan kotoran dilengkapi dengan mangkokan seprti leher angsa. Bila pada mangkokan tersebut dituangi air, pada bagian leher angsa akan
tertinggal air yang menggenang yang berfungsi sebagai penutup lubang.
Model kakus leher angsa adalah wc kakus yang bentuknya melengkung mirip leher angsa yang banyak digunakan di seluruh dunia. Toilet jenis ini bisa benbentuk wc jongkok dan wc duduk tergantung selera. WC ini dapat mencegah bau dan keluar masuk binatang sehingga menjadi kakus yang paling baik dan sehat karena disertai septic tank / sepiteng / penampung tinja yang aman dari kontaminasi ke lingkungan sekitar dan jaraknya bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi lokasi yang ada.
0.        Bahan
a)    Batako/batu bata
b)    Mangkokan leher angsa atau kloset pasir
c)    Bahan atap
d)    Semen
e)    Kayu
f)     Papan atau bahan dinding batu kali dan kerikil
g)    Pipa pralon besar dan kecil
h)   Ijuk
0.        Peralatan
a)    Gergaji
b)    Alat pertukangan kayu dan batu
1.        Pembuatan
Kontruksi kakus sistem leher angsa ada 3 macam :
a)    Bak penampungan kotoran langsung di bawah lubang pembuangan.
b)    Bak penampungan kotoran di samping bawah lubang pembuangan dengan penghubung pipa saluran dan bak reapan.
c)    Seperti 2 dimana bak resapan sebagai penyaring.
Bentuk kloset yang dipakai dapat dipilih sistem jongkok atau sistem duduk.
Ketiga kontruksi pembuatan jamban tipe ini dapat dilihat pada Gambar berikut :
 
Gambar 1. Tipe Langsung

 

Gambar 2. Tipe tidak langsung

2.        PENGGUNAAN
                        1.    Siramkan air pada mangkokan leher angsa supaya tidak lengket
                        2.    Jongkok atau duduk diatas kloset untuk melaksanakan hajat.
                        3.    Setelah selesai guyur dengan air secukupnya sampai kotoran bersih
3.        PEMELIHARAAN
                        1.    Pakailah karbol pada saat membersihkan lantai agar bebas penyakit.
                        2.    Hindarkan menyiram air sabun ke dalam bak pembuangan/atau ke dalam kloset agar bakteri pembusuk tetap berperan aktif.
                        3.    Lantai, kloset jamban harus selalu dalam keadaan bersih.
                        4.    Jangan menggunakan alat pembersih yang keras agar kloset tidak cepat rusak.
                        5.    Jangan membuang kotoran yang tidak mudah larut ke dalam air misal : kertas, kain bekas, dll.
4.        KEUNTUNGAN
                        1.    Lebih sehat, bersih dan punya nilai keleluasaan pribadi yang tinggi.
                        2.    Karena proses pembusukan dan sistem resapan, bak tidak cepat penuh.
                        3.    Timbulnya bau dapat dicegah oleh genangan air dalam leher angsa.
                        4.    Dapat dipasang di luar atau di dalam rumah.
                        5.    Dapat dipakai secara aman bagi anak-anak.
                        6.    Bila penuh dapat dikuras/dikosongkan.
5.        KERUGIAN
                        1.    Selalu menguras bila bak penampung penuh lumpur.
                        2.    Biayanya cukup mahal dan perlu keahlian teknis.
                        3.    Bagi masyarakat yang belum biasa menggunakan perlu bimbingan

4)    Jamban Plengsengan
Penggunaan jamb an tanpa leher angsa dengan tutup untuk memutuskan m ata rantai penularan penyakit m elalui kotoran manusia m asih m emiliki kelemahan yaitu menimbulkan bau dan tanpa tutup mungkin ma sih menarik lalat, dimana lalat tersebut dapat m encemari m akanan dengan kotoran.
Namun tangan yang kontak dengan kotoran setelah buang air besar mungkin dapat m encemari m akanan atau langsung ke mulut, m aka upaya untuk tidak terjadinya pencem aran tersebut dianjurkan untuk m embiasakan cuci tangan sesudah buang air besar dan sebelum menyajikan makanan.

5)    Jamban Empang (Fishpond Latrine)
            Jamban ini dibangun diatas empang ikan. Didalam sistem jamban empang ini terjadi daur ulang (recycling), yakni tinja dapat langsung dimakan ikan, ikan dimakan orang, dan selanjutnya orang mengeluarkan tinja yang dimakan, demikian seterusnya.

Jamban empang ini mempunyai fungsi yaitu disamping mencegah tercemarnya lingkungan oleh tinja, juga dapat menambah protein bagi masyarakat (menghasilkan ikan).

6)    Jamban Pupuk (the Compost Privy)
            Pada prinsipnya jamban ini seperti kakus cemplung, hanya lebih dangkal galiannya. Disamping itu jamban ini juga untuk membuang kotoran binatang dan sampah, daun-daunan. Prosedurnya adalah sebagai berikut :
- Mula-mula membuat jamban cemplung biasa..
- Dilapisan bawah sendiri, ditaruh sampah  daun-daunan.
- Diatasnya ditaruh kotoran dan kotoran biinatang (kalau ada) tiap-tiap hari.
- Setelah kira-kira 20 inchi, ditutup lagii dengan daun-daun sampah, selanjutnya
   ditaruh kotoran lagi.
- Demikian seterusnya sampai penuh.
- Setelah penuh ditimbun tanah dan membuatt jamban baru.
- Lebih kurang 6 bulan kemudian dipergunakkan pupuk tanaman.





7)    Jamban air (Water latrine)
Jamban ini terdiri dari bak yang kedap air, diisi air di dalam tanah sebagai tempat pembuangan tinja. Proses pembusukanya sama seperti pembusukan tinja dalam air kali.

8)    Jamban empang / gantung (Overhung latrine)
Jamban ini semacam rumah-rumahan dibuat di atas kolam, selokan, kali, rawa dan sebagainya. Kerugiannya mengotori air permukaan sehingga bibit penyakit yang terdapat didalamnya dapat tersebar kemana-mana dengan air, yang dapat menimbulkan wabahJamban Empang (Fishpond Latrine)
            Jamban ini dibangun diatas empang ikan. Didalam sistem jamban empang ini terjadi daur ulang (recycling), yakni tinja dapat langsung dimakan ikan, ikan dimakan orang, dan selanjutnya orang mengeluarkan tinja yang dimakan, demikian seterusnya.
            Jamban empang ini mempunyai fungsi yaitu disamping mencegah tercemarnya lingkungan oleh tinja, juga dapat menambah protein bagi masyarakat (menghasilkan ikan

9)    Jamban Bor
Dinamakan demikian karena tempat penampungan kotorannya dibuat dengan mempergunakan bor. Bor yang digunakan adalah bor tangan yang disebut boor aunger dengan diameter antara 30-40 cm. Sudah barang tentu lubang itu harus jauh lebih dalam dibandingkan dengan lubang yang digali seperti pada kakus cemplung atau plengsengan, karena diameter kakus bor ini jauh lebih kecil. Pengeboran pada umumya dilakukan sampai mengena air tanah. Perlengkapan lainnya dan cara mempergunakan, dapat pula diatur seperti pada kakus cemplung dan kakus plengsengan.





DAFTAR PUSTAKA
·         Anonym. 2011. Sisitem pengolahan air limbah. http://campuraduk- arale.blogspot.com /2011/05/sistem-pengelolaan-air-limbah-domestik.html. di akses tanggal 9 april 2012.
·         Anonym. 2011. Syarat membuat jamban sehat . <http://www.sanitasi.or.id/index. php?option=comcontent&view=article&id=255:tujuh-syarat-membuat-jamban-sehat&catid=55:berita&Itemid=125> di akses tanggal 9 april 2012
·         Anonym. 2011. Jamban sehat. http://www.iptek.net.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg= 5&doc =5d2. Di akses tanggal 9 april 2012
·         Anonym. 2011. Jamban sehat. http://nhyar-chaem.blogspot.com/2010/06/ jamban- sehat.html> Di akses tanggal 9 april 2012
·          Anonym. 2011. Sistem sanitasi setempat. <http://www.scribd.com/doc/ 76867049/Sistem-sanitasi-setempat.  Di akses tanggal 9 april 2012

laporan mutu IRT



BAB 1

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi masyarakat, diselenggarakan upaya kesehatan yang terpadu dan menyeluruh dalam bentuk upaya kesehatan perseorangan dan upaya kesehatan masyarakat sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009 pasal 47 yang dilaksanakan melalui bebagai kegiatan diantaranya adalah pengamanan makanan dan minuman.
Upaya pengamanan dalam menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan dilakukan secara berhasil guna. Semua itu merupakan upaya untuk melindungi masyarakat dari makanan dan minuman yang tidak memenuhi persyaratan mutu (Depkes RI, 2009). Keamanan makanan merupakan aspek sangat penting dalam kehidupan seharihari. Dalam prakteknya masih banyak produsen pangan yang menggunakan bahan tambahan yang beracun atau berbahaya bagi kesehatan yang sebenarnya tidak boleh digunakan dalam makanan. Kurangnya perhatian terhadap hal ini telah sering mengakibatkan terjadinya dampak berupa penurunan kesehatan konsumennya, mulai dari keracunan makanan akibat tidak higienisnya proses penyiapan dan penyajian sampai resiko munculnya penyakit kanker akibat penggunaan bahan tambahan makanan yang berbahaya (Syah, 2005).
Dalam kegiatan proses produksi makanan dan minuman, tindakan hygiene sanitasi yang merupakan bagian dari kesehatan lingkungan juga analisis bahaya dan titik pengendalian kritis (HACCP : Hazard Analysis Critical Control Point) merupakan salah satu upaya penting untuk menghindari pencemaran terhadap hasil produksi. Terdapat enam prinsip higine dan sanitasi yang harus diperhatikan dalam proses pengolahan makanan dan minuman yaitu pemilihan bahan makanan, penyimpanan bahan makanan, pengolahan makanan, penyimpanan makanan masak, pengangkutan makanan dan penyajian makanan (Depkes RI, 2004).




Kasus keracunan makanan selain disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme, dapat pula disebabkan oleh bahan kimia. Perlu diketahui bahwa pada dasarnya semua bahan kimia dalah beracun. Ketika masuk ke dalam tubuh manusia zat kimia ini akan menimbulkan efek yang berbeda-beda, tergantung jenis dan jumlah zat kimia yang masuk ke dalam tubuh. Bahan kimia yang sering kita kenal sebagai bahan tambahan makanan seperti pengawet, pewarna, pengental, dan penyedap rasa pun dapat menjadi racun bagi tubuh kita apabila dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan (Yuliarti, 2007).

Tanda-tanda umum makanan yang tidak aman bagi kesehatan antara lain berlendir, aroma dan rasa atau warna makanan berubah. Tanda lain dari makanan yang tidak memenuhi syarat aman adalah bila dalam pengolahannya ditambahkan bahan tambahan berbahaya seperti asam borax, formalin dan zat pewarna rhodamin B. Cara mengolah atau meracik makanan yang tidak benar juga dapat mengancam kesehatan dan keselamatan konsumen (Lestari, 2009).

Dalam undang-undang No. 7 Tahun 1996 tentang pangan, keamanan pangan didefinisikan sebagai kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia. Lebih lanjut di dalam PP 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi pangan disebutkan bahwa persyaratan keamanan pangan adalah standar dan ketentuan-ketentuan lain yang harus dipenuhi untuk mencegah pangan dari kemungkinan adanya bahaya, baik karena cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia. Karena demikian berpengaruhnya keamanan pangan terhadap kesehatan dan produktivitas, maka keamanan pangan merupakan suatu persyaratan di dalam penyediaan pangan dan perdagangan.
Di dalam Undang­undang pangan dinyatakan bahwa setiap orang dilarang memproduksi dan mengedarkan pangan yang mengandung bahan beracun, berbahaya atau yang dapat merugikan atau membahayakan kesehatan atau jiwa manusia, atau pangan yang mengandung bahan yang dilarang atau melampaui batas yang diizinkan dalam kegiatan atau proses produksi pangan. 




 Masalah keamanan pangan yang masih banyak ditemukan di Indonesia adalah beredarnya produk-produk pangan yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan, baik dari segi cemaran biologis maupun kimia seperti pestisida dan logam berat, maupun dari penggunaan bahan kimia yang dilarang untuk pangan atau bahan tambahan pangan yang digunakan melebihi batas maksimum yang ditetapkan. Terkait dengan keamanan produk pangan IRT, isu keamanan pangan yang masih sering muncul adalah penggunaan bahan kimia yang dilarang untuk pangan baik sebagai pengawet, maupun sebagai bahan tambahan untuk memperbaiki mutu produk.
Laporan Food Watch tahun 2004 menyampaikan bahwa dari hasil analisis sampel yang dikirim oleh laboratorium Balai POM pada periode tahun 200 1-2003 ditemukan produk pangan yang mengandung bahan kimia yang tidak diperkenankan untuk pangan seperti formalin, borax dan rhodamin B. Rhodamin B ditemukan pada kerupuk, terasi, makanan ringan dan lain-lain, boraks ditemukan pada mie basah, bakso, makanan ringan, kerupuk, mie kering dan lainnya, sedangkan formalin ditemukan pada mie basah, tahu dan lainnya. Rhodamin merupakan pewarna yang dilarang untuk makanan, biasanya digunakan untuk pewarna tekstil. Boraks digunakan untuk detergen, mengurangi kesadahan dan antiseptik lemah, sementara formalin diketahui sebagai pengawet mayat dan digunakan pada industri kayu, plastik dan industry non-pangan lainnya.

B.     Tujuan

1.      Umum
untuk mengetahui tingkat mutu sarana peratatan produksi industry rumah tangga.
2.      khusus
a)      Untuk melindungi konsumen dari makanan dan minuman yang tidak memenuhi persyaratan hygiene sanitasi, agar tidak membahayakan kesehatan.
b)      Untuk mengetahui kondisi sarana produksi rumah tangga.
c)      Untuk melindungi kesehatan masyarakat dan mennghindari gangguan terhadap kesehatan masyarakat di sekitar industry rumah tangga.






BAB II

DASAR TEORI

        Industri adalah suatu usaha atau kegiatan pengolahan bahan mentah atau barang setengah jadi menjadi barang jadi barang jadi yang memiliki nilai tambah untuk mendapatkan keuntungan. Usaha perakitan atau assembling dan juga reparasi adalah bagian dari industri. Hasil industri tidak hanya berupa barang, tetapi juga dalam bentuk jasa.
        Landasan hukum SPP-PIRT adalah keputusan  Kepala  Badan  POM Nomor : HK. 00. 05.5.1640, tentang Tatacara penyelenggaraan  PIRT. Dimana pihak penyelenggara adalah pemerintah, untuk Kabupaten / kota  Dinas Kesehatan
Pemerintah dalam hal ini memiliki wewenang pemeriksaan yaitu :
a. Memasuki setiap tempat produksi yang diduga digunakan dalam proses kegiatan produksi, penyimpanan , pengangkutan dan perdagangan pangan
b. Menghentikan memeriksa dan mencegah setiap sarana
c. membuka dan meneliti setiap kemasan pangan
d. memeriksa setiap buku dokumen atau catatan lain’
e. Dapat memerintahkan untuk menunjukkan atau memperlihatkan izin usaha / dokumen lain sejenis.

             IRT kepanjangan dari  Industri Rumah Tangga. IRT penting sebagai jaminan bahwa usaha makanan atau minuman rumahan yang dijual memenuhi standar keamanan makanan. Ijin  IRT hanya untuk produk pangan olahan dengan tingkat resiko yang rendah. Apabila Anda mendaftar, akan memperoleh 2 sertifikat  yaitu  sertifikat  penyuluhan  dan  sertifikat  IRT.
Sanitasi di IRT Pangan pada umumnya masih memprihatinkan dan merupakan masalah yang mendasar yang harus diselesaikan, walaupun beberapa IRT telah mulai melakukan praktek sanitasi yang baik. Sebagaimana diketahui, bahwa air merupakan komponen yang penting dalam suatu industri, namun akses terhadap air bersih tidak dimiliki oleh seluruh IRT pangan, sehingga banyak IRT yang menggunakan sumber air yang tidak memenuhi persyaratan keamanan pangan.





BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil Pengamatan

Berdasarkan hasil pengamatan pada tanggal 28 juni 2012 di Jalan Ponegoro pada industry mie pangsit, memperoleh penilaian mutu sarana PP IRT dengan hasil “KURANG”. berdasarkan kriteria penilaian sarana produksi industry rumah tangga di peroleh hasil berikut.
1.      lingkungan produksi
lingkungan yang berada di sekitar industry mie pangsit tidak terdapat semak. tempat sampah jumlahnya mencukupi akan tetapi ada sebagian yang terbuka serta sampah tidak berserakan did alma saran industri. pembuangan air limbah berfungsi dengan baik, dan lancar.
2.      bangunan fasilitas
a.       ruang produksi
lantai kedap air,  tidak licin,dan kuat akan tetapi tidak miring sehingga sulit dibersihkan. kebersihan lantai dalam keadaan kotor bekas dari sisa produksi yaitu tepung. dinding dalam keadaan kotor, banyak debu dari proses produksi. begitupun langit-langit sangat kotor dan sulit di bersihkan.
b.      kelengkapan ruang produksi
penerangan sangat terbatas sehinnga sulit dalam proses pembuatan prodak.
c.       tempat penyimpanan
tempat penyimpanan terpisah dari ruang produksi akan tetapi kurang bersih dan bahan bukan pangan di simpan tidak terpisah. tempat penyimpanan minyak solar dan oli dekat berada dalam satu ruangan meski agak berjauhan.
3.      peralatan produksi
kontruksi peralatan terbuat dari bahan yang kuat tidak berkarat, akan tetapi tidak mudah dibongkar. peletakan alat produksi tidak berurutan sesuai dengan urutan proses produksi. sebagian peratan dalam keadaan kurang bersih.
4.      suplai air
air berasal dari sumber yang bersih dan dalam jumlah yang cukup, air berasal dari air PDAM. air yang digunakan untuk pengolahan pangan dan keperluan lain memenuhi air bersih.
5.      fasilitas dan kegiatan hygiene dan sanitasi
a.       alat cuci/pembersih
alat cuci yang digunakan dalam keadaan kurang bersih.
b.      fasilitas hygiene karyawan
tempat cuci tangan kotor dan kurang baik. jamban  langsung menghadap ruang produksi.
c.       kegiatan hygiene dan sanitasi
ada penanggung jawab kegiatan produksi akan tetapi tidak melakukan pengawasan secara rutin. penggunaan detergen sesuai petunjuk penggunaan detergen.
6.      pengendalian hama
hewan peliharaan tidak ada berkeliaran pada ruangan produksi. pemilik atau karyawan tidak melakukan program pemberantasan hama dan pencegahan masuknya hama dalam ruangan produksi.
7.      kesehatan dan hygiene karyawan
a.       kesehatan karyawan
pemeriksaan kesehatan tidak dilakukan oleh karyawan yang bekerja di industry mie pangsit. karyawan yang bekerja di pengolahan pangan dalam keadaan sehat.
b.      kebersihan karyawan
ada karyawan yang kurang menjaga kebersihan badan. pakaian perlengkapan kurang bersih atau kotor. setiap karyawan membersihkan tangan sebelum melakukan proses produksi. karyawan yang mengalami luka di balut atau di perban atau di plester.
c.       kebiasaan karyawan
sebagaian karyawan mengunyah, makan, minum,dan sebagainya sambil mengolah pangan. semua karyawan di pengolahan pangan tidak memakai perhiasaan dan asesoris lainnya.
8.      pengendalian proses
dadalam proses pembuatan  produk, industry mie pangsit menggunakan  bahan pangan yang baik dan tampa menggunkan bahan tambahan pangan seperi pewarna maupun pengawet. penetapan komposisi dan formulapun telah ditentukan dengan baik dan sesuai proses aliran produksi. penggunaan kemasan untuk produk yang telah siap di pasarkan cukup baik dan sesuai jenis pangan untuk mie pangsit. hanya saja pada kemasan tersebut tidak ditetapkan kadarluarsa dan kode produksi. sehingga pelabelan pada produk tidak dilakuan karena produk langsung di konsumsi oleh pelanggan dan langsung sesuai permintaan pelanggan.
9.      penyimpanan
penyimpanan bangan bangan terpisah dengan produk yang sudah jadi. dan penggunaan bahan  yang terlebih dulu di beli dan di pakai. bahan yang sangat berbahaya di letakkan di ruangan khusus. kemasan dari bahan tidak teratur disimpan dan menumpuk begitu saja. dan peralatan tidak di simpan teratur atau pada ruangan tertentu.
10.  menejemen pengawasan
penangungjawaban dan pengawasan proses produksi dilakukan dengan baik karena sang pemilik berada ditempat dan mengerjakan proses produksi.
11.  pencatatan  dan dokumentasi
pencatatan  mengenai bahan pangan dan produk baik saat masuk maupun dicatat dengan baik serta disimpan  selama 1 bulan.
12.  pelatihan karyawan
karyawan yang bekerja atau pemilik tidak pernah mengikuti penyuluhan cppb-irt.

B.     Pembahasan

pada pemeriksaan yang telah kami lakukan di industry rumah tangga mie pangsit di Jalan Diponegoro memperoleh penilaian mutu sarana PP- IRT dengan hasil “KURANG”. kriteria penilaian yang kurang memenuhi syarat kesehatan dan penilaian yang baik. criteria grup D,F,G,dan H salah satunya memiliki nilai kurang yaitu pada grup F yaitu criteria pengendalian hama.
            pada criteria lingkungan produksi, tempat sampah hanya sebagian saja yang memiliki tutup, hal ini akan menyebabkan sarang berbagai vector seperti lalat, maka perlu pembuangan setiap hari. sampah lebel ada beberapa yang ada di ruangan produksi yang seharusnya dapat dirapikan atau di buang ke tong sampah serta sisa dari proses produksi.
            pada criteria bangunan dan fasilitas produksi, ruang produksi memiliki lantai yang tidak licin, kedap air, dan kuat akan tetapi tidak rata dan tidak di buat miring sehingga sulit dibersihkan terutama sisa dari bahan produksi yang berupa tepung yang sulit dibersihkan. lantai yang kotor ini lah yang dapat menyebabkan penyakit dan tempat bersarang jamur jika debu yang berupa tepung tersebut masuk dan bercampur dengan produk. begitupun dengan keadaan dinding yang kurang baik dan cukup kotor. dinding memiliki konstruksi yang kedap air dan kuat, tetapi cat pada didnding sangat kusam dan mudah mengelupas sehingga sulit untuk di bersihkan. langit langitnya pun sangat kotor, banyaknya sarang laba-laba yang menandakan jarang di bersihkan secara rutin dan berwarna hitam dari asap pembakaran proses produksi.
tempat penyimpanan bahan baku yang tidak teratur dan ruang khusus untuk menyimpan dapat menyebabkan timbulnya kesulitan dalam proses produksi dan penggunaan bahan yang seharusnya terlebih dahulu digunakan serta kurang bersihnya ruangan dapat menyebabkan sarang vector terutama tikus dan kecoa.
dalam pembuatan produk yang baik, di butuhkan peralatan yang baik pula. hanya saja dalam pemeriksaan, tata letak alat kurang sesuai dengan urutan alur proses produksi sehingga menyulitkan para pekerja untuk melakukan proses produksi. selain itu mungkin karena hal ini lah kebersihannya tidak dapat dijaga dengan baik selain itu karena alat yang digunakan merupakan alat tradisional yang cukup besar dan berat meski dapat dibongkar pasang. hal semacam ini dapat menurukan kualitas produk yang di hasilkan karena produk akan menjadi kurang higienis dan menurunkan mutu produk terutama masa simpan karena alam menjadi kurang bersih.
penggunaan air yang digunakan pada industry mie pangsit menggunakan air PDAM sehingga jumlahnya mencukupi, bersih, dan air yang digunakan untuk proses produksi menggunakan air hujan.
saat pemeriksan yang dilakukan, IRT mie pangsit memiliki mencuci tangan dan alat pembersih yang kotor, dimungkinkan karena mereka lelah saat mereka melakukan proses produksi sehingga tidak sempat membersihkan peratan pembersih dan tempat pencuci tangan. akan tetapi kurangnya perhatian tersebut dapat berakibat sangat tidak baik, karena jika keesokan harinya digunakan kembali menyebabkan kurang bersihnya peralatan dan tangan pekerja yang digunakan jika tidak dibersihkan terlebih dahulu alat pencucinya dan tempat mencuci tangan tersebut. sehingga produk akan terkontaminasi bakteri dari tempat cuci tangan dan alat pencuci tersebut. kepemilikan jamban yang baik perlu diperhatiakan terutama letak jamban tersebut. jamban terletak dekat dengan ruang produksi dan menghadap kea rah ruang produksi dan jarang ditutupnya pintu jamban tersebut sehingga akan merusak mutu dari produk. terutama dari orang yang masuk ke dalam jamban dan aroma dari jamban tersebut.
menejemen penanggungjawaban dilakukan dengan baik karena sang pemilik berada di tempat produksi ada dan melakukan proses produksi juga. karena ini lah pengawasa terhadap karyawan lain sangat jarang dan pemilik telah mempercayai karyawan yang telah lama bekerja di IRT mie pangsit tersebut.
pemilik melarang atau mencegah henwan peliharaan masuk ke area produksi. akan tetapi hewan liar seperti burung pipit dapat dengan mudah masuk dan pemberantasan hama seperti tikus dan kecoa tidak dilakukan. ini disebabkan karena produk yang dihasilkan langsung di jual sesuai permintaan pelanggan sehingga bahan yang disimpan cepat digunakan dan tidak terlalu lama di tempat penyimanan.
para karyawan secara keseluruhan dalam keadaan sehat, dan jika diantara mereka kurang sehat mereka tidak bekerja. dan pemeriksaan secara pun tidak dilakukan oleh para karyawan karena usaha mie pangsit yang semakin sulit dan jika mereka periksa hanya saat mereka merasa sakit saja. dari segi kebersihan karyawan kurang menjaga kebersihan serta pakaian kerja, hal ini dapat menyebakan kontaminasi terhadap makanan yang di produksi. karyawan terkadang makan dan minum pada saat melakukan pengolahan makanan,  makanan yang di makan dapat bercecer dan bercampur dengan bahan pangan.
pemilik tidak melakukan penetapan  tanggal kadarluarsa dan kode produksi karena hasil produksi langsung di beli oleh konsumen dan langsung di konsumsi dan jumlah produsi yang dihasilkan di sesuaikan dengan pesanan konsumen.
kemasan yang berasal dari bahan pangan seperti karung tepung, tidak disusun  rapi dan berserakan. penyimpanan peralatan juga disimpan secara sembarangan  hal ini dapat berakibat pada produksi makanan karena alat menjadi kurang bersih. pengetahuan karyawan yang kurang mengenai hygiene sanitasi sarana produksi dapat membuat kesalahan yang dapat menurunkan kualitas pangan.

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

1.      penilaian mutu sarana PP-IRT bernilai “kurang” disebabkan  pada grup F  kriteria pengendalian hama bernilai “Kurang.
2.      penilaian 4  group utama sebagai berikut
·         group D – suplai air bernilai B
·         group F – pengendaalaian  hama bernilai K
·         Group G – kesehatan dan hygiene karyawan bernilai C
·         group H – pengendalian proses bernilai C.

B.     saran

1.      bagi pengusaha industry rumah tangga pangan lebih memperhatikan kebersihan ruang produksi karyawan dan peralatan produksi.
2.      setiap karyawan diharapkan selalu memeriksa kesehatan.
3.      bagi pembeli harus berhati-hati dalam  membeli pangan. dan lebih baik membuat sendiri pangan tersebut